Rindu Mencicip Cerpen

March 12, 2011

Saya adalah penikmat cerpen. Karya sastra ini adalah berupa sebuah cerita yang ditulis dengan efektif, ringan-ringkas dan tidak bertele-tele. Cerita yang disuguhkan tidak rumit, dan tidak membosankan.

Ketika masih kecil, saya mengenal cerpen secara lisan lewat dongeng-dongeng pengantar tidur yang dituturkan oleh kakek saya. Dongeng-dongeng itu seringkali tidak sampai selesai, karena saya keburu terbang ke alam mimpi. Dongeng-dongeng fabel mendominasi topik dongeng yang saya dengar saat itu. Tentu saja, karena ini lisan, tidak ada judul yang mengawali setiap cerita. Cerita-cerita tentang kancil dengan berbagai variasi cerita begitu melekat di setiap malam yang saya lewati. Cerita (yang kemudian saya beri judul sendiri) seperti Kancil Nyolong (mencuri) Timun, Kancil dan Bubur Nabi Sulaeman, Kancil Menyebrang Sungai, Kancil dan Anjing Penjaga, dsb. Kangen rasayana menceritakan kembali cerita-cerita tersebut.

Setelah bisa membaca, saya mengenalnya dengan lebih variatif lewat tulisan-tulisan di koran dan majalah. Membaca cerpen menjadi kesenangan yang mengasyikkan di sela-sela waktu luang saya. Cerita-cerita pendek karya Arswendo Atmowiloto , Indra Tranggono, Seno Gumira Ajidarma, dll sering saya baca lewat Harian Kompas dan beberapa media cetak saat itu.

Intensitas waktu yang lebih dalam mengeksplorasi Bahasa Inggris saat kuliah, memungkinkan saya membaca cerpen-cerpen berbahasa Inggris. Karya-karya cantik dari F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Shirley Jackson, D. H. Lawrence, Edgar Allan Poe, dsb. cukup akrab dengan hari-hari saya di Yogya saat itu. Salah satu cerpen yang sangat melekat dalam benak saya, dan saya sering ceritakan kembali adalah karya Guy de Maupassant berjudul The Necklace.

Kegiatan membaca cerpen menjadi sebuah romantika masa lalu untuk saat ini. Waktu yang tersita oleh pekerjaan dan waktu luang yang lebih banyak terampas oleh Facebook atau Twitter menjadikan rindu mencicip cerpen terasa lebih menggigit. Namun belum lama ini saya menemukan sebuah web yaitu Cafe Novel yang memungkinkan pengunjungnya untuk menikmati cerpen dari berbagai karya penulis di Indonesia. Terima kasih untuk penggagasnya.

Sejatinya menikmati karya sastra cerpen memungkinkan kita masuk dalam sebuah dunia yang (mungkin) sangat berbeda dengan keseharian kita yang akan memperkaya batin kita….

Erema Village – Cisarua, 12 Maret 2011

The Psychology of  Botak

December 3, 2009

Dua hari yang lalu saya mencoba (memberanikan diri) mengubah potongan rambut jadi botak…hampir gundul. Panjang rambut hanya sekitar 1 cm.

Butuh keberanian ekstra untuk melakukan hal tersebut, mengingat profesi sekaligus sudah terbiasanya berpenampilan rambut rapi bak karyawan kantoran. Butuh puluhan tanya dilontarkan ke kanan kiri untuk membulatkan tekad mengambil keputusan ini.

Sampai akhirnya sampai juga di tukang cukur yang kebetulan potongan rambutnya plontos. Jadi ketika ditanya”, Rambutnya digimanakan nich Mas?”. Saya pun dengan mantap bilang”,Disamain aja seperti rambut Mas”.

Singkat kata, plontoslah kepala ini, setelah 27 tahun tidak pernah sekalipun berpenampilan seperti ini. Ya, waktu itu umur saya baru 4 tahun, harus dibotakin gara-gara harus kepala dioperasi akibat kecelakaan.

Hari pertama dengan gaya rambut baru, berbagai pertanyaan datang bertubi-tubi.”,Hei, kenapa botak, stress ya?”, “,Ketangkep dimana?”, “Lagi nadar apaan Pak?”, dsb.

Hari kedua udah mulai terbiasa. Paling tidak tidak terlalu sibuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan2 yang ga penting tersebut. Kesibukan narsistis juga sudah mulai berkurang ketika menemukan cermin (bukan narsis sich tepatnya, lebih untuk meyakinkan kalau semua baik2 aja…he…he…).

Namun rasa canggung dan kikuk masih berlanjut setiap kali saya datang ke komunitas yang lain, Oiya, kebetulan, saya beraktifitas di banyak komunitas, jadi kejadian yang sama akan terulang – banyak pertanyaan2 yang akhirnya hanya saya tanggapin dengan tersenyum.

Sudah lama saya pengin botak sebenarnya. Tapi selalu dilarang Ibu saya, karena beliau menganggap kepala gundul ya identik dengan NAPI – narapidana. Terlebih mantan pacar saya yang nakut-nakutin dengan bilang”,Kamu itu ya ga pantas, kepala botak, wajahmu ga mendukung. Jadi keliatan culun”. Belum lagi pengalaman pribadi yang selalu berkomentar ke teman yang baru aja menggunduli kepalanya”, “Lagi putus cinta ya Bro?”.

Apapun persepsi orang terhadap kepala botak saya, yang jelas rambut ini tidak perlu shampoo yang banyak dan lebih praktis, karena tidak perlu bingung cari sisir setiap pagi…..He3x…What a life!

Seorang teman memberi komentar di status FB yang baru saja saya tulis. Bukan kebetulan ketika saya memasang status “Bagaimanapun kau tetap INDONESIAKU…”. Mencoba memberi sedikit sentuhan pada Hari Kemerdekaan esok. Teman saya ini memberi komentar, “Cegah osteopososis of nasionalism, Pak”. Rasanya sedikit geli ketika ia menggunakan kata osteoposis demi untuk mengungkapkan kekeroposan nasionalisme yang (menurut dia) memulai memudar.

Tapi benarkah nasionalisme telah mengalami osteoporosis atau mengeropos? Apakah ukuran sebenarnya nasionalisme dinilai sebagai tinggi, sedang-sedang saja, rendah atau bahkan tidak ada sama sekali?

Sangat mungkin jika nasionalisme setiap orang berbeda-beda. Wajar. Menurut saya, nasionanlisme tidak berbeda dengan ungkapan afektif seseorang terhadap sesuatu, dalam hal ini adalah sebuah negara. Ketika sebuah perasaan dipertanyakan ukurannya, maka hanyalah jawaban kualitatif yang akan muncul atau jika kuantitatif yang hadir, maka jawabannya akan sangat diragukan keakuratannya. Senada dengan sebuah pertanyaan seorang gadis terhadap pacar barunya, “Sebesar apakah cintamu padaku?”. Maka si pria ini akan dengan gagah menjawab, “Sebesar Gunung Merbabu, seluas 7 lautan…. (busyeet… he..he…lebay abiss…omong2 berapa cewek yang udah kena tipu Bang???)

Namun ada yang juga yang berpendapat bahwa nasionalisme bisa diukur dari seberapa lantang dia menyanyikan Lagu Kebangsaan ketika mengikuti sebuah upaca bendera atau seberapa nyaring ia berteriak manakala ia menjadi sporter pertandingan olahraga antar negara. Kemudian ketika saya bertanya lebih lanjut apakah ketika seseorang tidak pernah mengikuti upacara bendera atau menjadi sporter pertandingan nasionalismenya dipertanyakan? Dia diam cukup lama, yang kemudian saya simpulkan ia pun terjebak dalam kebingungan…..

Mengukur sesuatu yang sangat relatif dan uncountable (kalau boleh meminjam istilah ini), menurut saya tidaklah perlu dilakukan dengan cara-cara ekstrem nan heroik seperti yang dicontohkan di atas. Mungkin pendapat teman saya mempunyai andil dalam hal ini, namun juga kita tidak bisa mengabaikan orang yang dengan setia menunggu lampu(lalu lintas) merah berubah jadi hijau untuk menjalankan kendaraannya, atau seseorang yang dengan tulus mengulurkan sejumlah receh untuk anak yatim piatu atau anak terlantar Atau seseorang yang dengan sukarela membuang sampah di tempat sampah dan hal-hal (kecil) lainnya.

Pada kesimpulan saya, nasionalisme mempunyai aspek yang beragam untuk diukur. Berbagai sikap mental dan tingkah laku bisa mencerminkan nasionalisme dalam arti yang sebenarnya. Dalam kesimpulannya, nasionalisme adalah segala sikap terpuji, sekecil apaun itu, yang ditunjukkan orang demi kebaikan diri sendiri dan kehidupan bersama.Karena hal-hal kecil yang dilakukan bersama dan terus menerus akan membentuk sebuah citra positif masyarakat beradab. Mari wujudkan nasionalisme sederhana di kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan jadi NYATA ketika semua perilaku baik terlaksana.Dan pada akhirnya hal itu akan mampu membawa kemajuan yang berarti bagi negara INDONESIA tercinta ini.

DIRGAHAYU YANG KE -64 INDONESIAKU TERCINTA…..

(Berkah) DPT yang Kacau

April 15, 2009

Maksud hati pengin golput. Golput bukan suatu pilihan karena alasan ideologis, tapi lebih karena tidak terdaftar di DPT (di daerah domisili KTP saya dibuat). Ditambah malas nyontreng juga mungkin, karena begitu tahu nama tak ada di DPT, jadi punya alasan (kuat) untuk tidak nyontreng. Saya pikir, kalo toh tidak terdaftar di pemilu legislatif tidak apa apa, asal nanti saat pilpres, harus sudah terdaftar. Bagi saya pilpres sudah jelas figur-figurnya. Tidak seperti caleg-caleg yang mempunyai (katanya)visi dan misi yang seragam dan penuh janji-janji yang menggelikan.

Suatu hari, semingguan menjelang penyontrengan, datanglah seorang petugas (kebetulan ia adalah satpam di cluster, tempat saya tinggal) membawa suarat undangan dari kelurahan untuk ikut penyontrengan. Aneh sekali pikir saya, karena saya belum punya KTP di tempat saya tinggal (saya masih menggunakan KTP yang lama dari tempat saya kontrak dulu).Saya memang belum urus pemindahan KTP karena saya baru pindah, belum genap 1 tahun. Lha kok tiba – tiba nama saya (dan istri) saya dapat undangan penyontrengan.

Sampai saat ini saya tidak mendapat pencerahan sama sekali tentang masalah ini. Tapi paling tidak dengan kacaunya DPT tersebut, saya jadi punya hak pilih.Jangan sampai pilpres besok, saya justru tidak ada di DPT.

Celesta – Sebuah Makna

November 12, 2008

Banyak orang mengerinyitkan dahi ketika mendengar kata “celesta”. Saya pun demikian, setidaknya kurang lebih 3 tahun yang lalu, waktu itu itu saya berboncengan dengan calon istri melewati sebuah perumahan di bilangan Serpong Utara yang lebih dikenal dengan Graha Raya yang sedang dibangun dan namanya adalah CELESTA. Belum terpikir sedikitpun, bahwa kami nantinya akan banyak menghabiskan waktu bersama di perumahan ini.
Beberapa tahun kemudian, atau bulan Februari, ketika pertama kali masuk ke Celesta untuk cek calon rumah (yang belum tentu terbeli waktu itu), tidak terpikir bagi saya untuk mengetahui arti kata CELESTA. Toh, menurut saya, pihak pengembang bisa jadi tidak terlalu mempedulikan makna kata celesta, selain bahwa nama ini terdengar keren untuk sebuah nama cluster dan cukup marketable.

Namun, begitu hampir 4 bulan tinggal di cluster ini, pengin juga mengetahui arti kata celesta. Memang sich, mungkin bagi sebagian orang, nama tidak terlalu penting. Yang penting cicilan perbulan tidak naik karena suku bunga yang semakin tidak karuan karena krisis ekonomi global…he..he…(semoga krisis ini tidak berlanjut lebih parah, dengan terpilihnya Obama – Lho????)…

Beberapa hari yang lalu saya coba surfing mencari arti kata celesta. Dari Wikipedia, tersebutlah bahwa celesta merupakan jenis alat musik sejenis piano yang biasa digunakan oleh para pianis Jazz sebagai salah satu alat musik alternatif.

Di salah satu kalimat di artikel tersebut, juga disebutkan bahwa, kata celesta atau celeste (bahasa Perancis) berarti heavinly – surgawi. Ini berhubungan dengan suara yang dihasilkan dari alat musik ini yang sangat lembut. Untuk lebih lengkap mengetahui makna kata celesta silahkan klik di http://en.wikipedia.org/wiki/Celesta

Atau mungkin di antara Celestaers (sebutan kerennyapara penghuni cluster ini) yang lain atau para pembaca mempunyai pendapat lain? Silahkan share….

Nama bagi sebagian orang lain adalah doa dan harapan. Semoga dengan arti makna celesta yang saya sampaikan, semakin membuat kita semakin feeling at home dan suasana di Celesta penuh dengan kedamaian bak di surga. Amin

Salam

Berselancar di dunia maya mutlak membutuhkan kemampuan Bahasa Inggris yang memadai. Banyaknya situs berbahasa Inggris menjadikan pengguna internet yang tidak mahir berbahasa Inggris perlu extra keras dalam memahami isi situs tersebut. Pada tahap ini mungkin banyak pengguna internet menyesali diri mengapa dulu waktu sekolah tidak mau bersahabat dengan pelajaran Bahasa Inggris….(Bukan menuduh lho…)

Tapi permasalahan itu tampaknya akan segera berakhir. Belum lama ini, Google (dengan baik hati) telah menyediakan diri untuk menampung permasalahan terkait penerjemahan dalam berbagai bahasa di dunia. Setidaknya ada sekitar 33 bahasa yang bisa saling dialihbahasakan.

Google Translate dalam menjalankan misinya menyediakan 2 layanan yaitu terjemahan yang bisa Anda ketikkan pada kolom Original Text dan terjemahan untuk sebuah situs, Anda tinggal memasukkan alamat situs ke dalam kolom yang telah disediakan. Anda tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan hasil terjemahannya.

Akurasi? Memang yang menjadi andalan fasilitas ini tampaknya bukan akurasi. Setidaknya untuk saat ini. Perbendaharaan kata yang masih terbatas serta terlalu terbatasnya konteks penggunaan kata menjadi kendala utama. Pemahaman terhadap tata bahasa Bahasa Indonesia juga dirasa kurang, sehingga ketika saya coba menuliskan kalimat yang komplek, hasilnya tidak memuaskan.

Namun tampaknya Anda bisa berkontribusi untuk menyumbang saran kata yang sesuai dengan mengklik ikon suggest a better translation.

Bagaimanapun, Google sudah mau berniat memebrikan fasilitas yang akan banyak membantu para surfer dalam beralihbahasa. Nah, namun dengan adanya fasilitas ini, jangan menjadi (tambah) malas belajar Bahasa Inggris lho ya….He..he…

Gaya Baru Malam? Anda mungkin mengenal salah satu nama kereta ekonomi tujuan akhir Surabaya (Pasar Turi?) dari Pasar Senen ini. Tapi punya pengalaman naik kereta ini, saya tidak terlalu yakin.

Saya akhirnya (menyempatkan) pulang mudik tanggal 2 Oktober, pas Lebaran hari kedua. Saya berpikir penumpang kereta api pasti sudah tidak akan melumber lagi. Eh, saya kecele….Semua tiket habis terjual dan yang tersisa tiket kereta api kelas ekonomi Gaya Baru Malam.

Perjalanan 12 jam di dalam kereta yang penuh sesak membuat saya bertekad untuk tidak akan menggunakan kereta ini lagi pada sisa hidup saya. Saya harus berdiri tanpa jeda sedikitpun untuk bergerak, bahkan  ke toilet sekalipun.  Penumpang yang lain berdiri tidak sedikit, yang duduk mengglongsor tanpa tiket pun tidak kalah banyaknya.

Setiap stasiun (kecil pun) berhenti dan mengangkut tambahan penumpang, tanpa memperdulikan jumlah penumpang yang telah ada di dalam gerbong yang sudah tergenjet bak ikan teri. Dari satu dua penumpang mereka menginformasikan kalau tiket terus dijual tanpa memperdulikan kapasitas gerbong. Tidak sedikit orang tua yang menggendong anaknya yang masih berumur bulanan, ikut berdesakan dan bermodalkan semangat yang-penting-mudik. Emosi para penumpang meninggi setiap kali berbenturan dengan kepentingan para calon penumpang yang mencoba merangsek untuk naik gerbong. Para petugas  tidak berdaya seakan memaklumi kepentingan kedua belah pihak yang tidak terakomodasi oleh perusahaan negara penyedia angkutan massal paling murah ini.

Kemanusiaan seperti terinjak-injak. Hak orang-orang ekonomi lemah untuk mendapatkan fasilitas transportasi yang murah dan manusiawi (tidak perlu nyaman) terampas oleh kegagalan manajemen PT KAI.

Hajatan setahun sekali ini seperti tidak menyisakan cermin untuk sekedar memberi perbaikan untuk tahun depan. Setahun waktu yang cukup membuat segala sesuatunya lebih baik. Atau jalan pikiran mereka berkata”, Ah setahun sekali ini, namanya juga lebaran….., Wajar dong…”.

Akhirnya, semua kekesalan teredam oleh jalan pikiran sederhana para penumpangnya sendiri”, Namanya juga murah, mosok, mo dapet yang edhum iyub Mas….. Kita, rakyat kecil, dah biasa tergencet  di negeri ini….namanya juga negara (mencoba) berkembang”.

Pulang ke Jawa

October 6, 2008

“Anda berasal dari Jawa?”. Demikian kerap pertanyaan ditujukan ke saya, terkait dengan asal tempat saya dilahirkan. Awalnya agak aneh bagi saya, apalagi saya tinggal di Jakarta yang masih berada di  Pulau Jawa.

Kata “Jawa” tentu kemudian dipahami tidak untuk diterjemahakan sebagai Pulau Jawa (Java – English), tetapi cenderung diartikan sebagai sebutan untuk wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, atau Jawa Timur. Istilah ini populer digunakan untuk para perantau yang tinggal di Jakarta.

Kata”Jawa” mengalami penyempitan makna ditinjau dari kaitannya secara geografis. Secara geografis, wilayah yang diempunya kata Jawa ini tentu meliputi seluruh wilayah yang ada di Pulau Jawa. Namun kata ini lebih cenderung bermakna kesukuan. Orang – orang yang tinggal/berasal dari luar wilayah-wilayah yang saya sebut di atas, walaupun tinggal di Pulau Jawa, tidak berhak menyandang gelar Orang Jawa. Mereka adalah yang berasal dari suku Sunda, Betawi, dan Madura.

Namun tentu lain cerita kalau mereka pergi ke pulau-pulau di luar Jawa. Mereka masih memperoleh “hak pakai” nama Orang Jawa, karena tentu cakupannya menjadi lebih luas. Dalam sejarah perjuangan bangsa, tepatnya tahun 1915, Orang Jawa dibahasakan sebagai Jong Java – Pemuda Jawa. Hanya memang para pemuda Betawi menyebut diri mereka sebagai Pemuda Kaum Betawi.

Anehnya kata jawa yang bermakna kesukuan ini tidak diikuti oleh orang-orang dari Sumatra Barat yang bersuku Batak. Mereka yang berasal dari wilayah ini, tidak akan ditanya,”Kapan pulang ke Batak, Bang?’. Yang lebih kerap dilontarkan adalah “, Kapan pulang ke Medan, Bang?”.

Baik, jadi Lebaran kemarin Anda mudik kemana? Ke Jawa, ke Medan atau Sukabumi?

Hari Menjelang Libur Lebaran

September 26, 2008

Hari ini adalah hari terakhir saya masuk kerja. Seminggu ke depan, saya libur lebaran. Lumayan lama liburan ini. Tapi saya sudah merancang banyak hal yang ingin saya lakukan baik yang akan dilakukan sendiri maunpun dengan keluarga tercinta.

 

Lebaran ini saya merencanakan untuk mudik. Kalo tidak ada perubahan, tanggal 31 malam saya berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta, tepatnya ke Gunungkidul. Tidak sepenuhnya sekedar merayakan lebaran di kampung sich, cuma memang saat ini nenek saya sedang sakit dan tentu kebahagiaan terbesar orang tua adalah ditunggu’in oleh anak cucu.

 

Rencananya tidak lama di kampung, jadi masih ada waktu luang yang bisa saya gunakan untuk bersilahturahmi dengan tetangga dan juga saudara-saudara yang kebetulan tidak mudik tahun ini.

 

Kemungkinan besar, blog ini pun tidak bisa terisi. Karena biasanya menggunakan akses internet dari tempat kerja, untuk pergi ke warnet, rasanya jarang mendapatkan warnet yang buka di saat suasana lebaran. Kecuali laptop bisa bebas dari virus yang menggila, jadi bisa menggunakan modem IM2 (belum digunakan sama sekali sejak dibeli 1 bulan yang lalu).

 

Ok, pasti Anda pun sudah merencanakan banyak hal untuk menyambut liburan dan hari raya Idul Fitri ini. Bagi yang mudik, hati-hati di jalan. Bagi yang masih tinggal di Jakarta, selamat menikmati lengangnya jalanan kota metropiltan tercinta ini. (Berbahagialah…Jarang lho suasana seperti itu….)

 

Akhirnya, saya mengucapkan selamat Idul Fitri  1429 H, maaf lahir batin…..

Sedekah untuk Gepeng

September 25, 2008

Berbuat baik untuk orang lain itu harus. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu. Salah stunya memberi sedekah bagi oarng yang tidak mampu, seperti fakir miskin, anak-anak terlantar, atau dikenal dengan gepeng. Namun bagaimana dengan wacana berikut?

Di Jakarta, tampaknya para pengemis, gelandangan,  tidak akan pernah hilang. Dari hari ke hari, mereka masih saja tampak berkeliaran di jalanan. Berbagai cara untuk mengusir keberadaan mereka seolah tidak mampu mengusir mereka. Bahkan Perda DKI yang menegaskan akan memberi sanksi kepada siapapun yang memberi “recehan” kepada mereka. Karena ditengarai kebertahanan mereka terkait dengan adanya supply chain oleh pengguna jalanan.

Tampaknya, permasalahan ini ditanggapi beragam oleh masyarakat. Bagaimana menurut Anda? Apakah memberi sedekah kepada fakir miskin di jalanan adalah hal yang masih patut dilakukan atau tidak? Apakah masalah ini hanya sampai pada tataran hati nurani masing-masing?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.