Sumpah, Tak Mudah …….. (1)

Memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan memang selalu tidak mudah. Terutama jika keputusan itu bertolak belakang dari pendapat banyak orang. Rasa “nglangut” – sepi dalam ketakberdayaan – tak mudah pupus, apalagi hanya bersandar pada keyakinan tanpa sebuah kepastian.

Demikian juga ketika kami akhirnya memutuskan untuk menarik anak kami dari sekolah yang sudah memberikan banyak hal kepadanya selama 4 tahun terakhir ini. Damai, anak kami, masuk sekolah swasta yang hanya berjarak 300 langkah kaki dari rumah kami. Dekat..ya sangat dekat malah. Mama nya selalu bermimpi anaknya kelak harus bersekolah di sekolah yang paling dekat dari rumah. Ia selalu terkenang, bahwa sejak SD sampai dengan kuliah, selalu berangkat dari rumah jam 5 pagi. Sehingga, 5 tahun lalu, kami merasa sangat terberkati dengan dibangunnya sekolah sawasta tersebut, krn seperti mimpi serasa nyata. Dan benar saja, selama 4 tahun belakangan ini, kami sama sekali tidak terbebani dgn jarak sekolah yg sangat-sangat dekat dgn rumah.

Rasa syukur kami bertambah tatkala anak kami dari baik mulai dari TK sampai SD (kelas 3), Damai tidak mengalami kesulitan baik dalam mengikuti pelajaran maupun bersosialisasi dengan teman-teman dan gurunya. Dia sangat menikmat malah. Bahkan menurut guru-gurunya, Damai mempunyai daya tangkap yg melebihi teman-temannya. Dia selalu tampak bersemangat belajar maupun dalam mengikuti penjelasan guru-gurunya. Puji Tuhan, pada kelas 1 dan 2, dia selalu menjadi yang terbaik untuk pencapaian prestasi akademik, walaupun tentu tidak dinyatakn scr tertulis di buku rapor nya. Para guru wali nya hanya menyampaikan secara lisan.

Begitupun dengan kegiatan yang bersifat kompetitif. Damai selalu ingin tampil terbaik, sehingga dia selalu meraih penghargaan, mulai dari lomba renang, menggambar, kartinian dan berbagai lomba lainnya. Sederet piala menjadi bukti sahih perjuangannya. Dia memang selalu bersemangat untuk yg berkaitan dengan kompetisi. Like father like daughter mungkin..he he….

Dari berbagai rangkaian peristiwa di sekolah, tampak jalan sudah lurus ke depan dan terasa gamblang di depan. Gambaran bahwa Damai akan menyelesaikan masa sekolah di sekolahnya ini. Pernah Damai bilang ke kami, “Pokoknya sampai SMA mau di sini (dia menyebut nama sekolahnya)”. Dia bersama teman-teman dekatnya pun sudah “berkomitmen” ala orang dewasa untuk selalu bersama dengan terus menlajutkan di sekolah tersebut sampai jenjang SMA.

Namun skenario berubah sejak 4 bulan yang lalu. Saat itu saya tertarik dengan konsep homeschooling, yang sebetulnya sudah lama saya mengenalnya, meski hanya sekilas. Namun tentu bukan konsep yang saya dalami mengingat tak terbayangkan anak kami yang tampaknya sangat menikmati belajar di sekolah harus tinggal di rumah sepanjang hari, “hanya” bersama kami, tanpa teman-teman sekolahnya.

Rasa penasaran terhadap konsep homeschooling membawa saya untuk masuk ke sebuah komunitas di dunia maya ttg homeschooling di Indonesia. Saya jadi aktif membaca referensi-referensi mengenai konsep homeschooling. Saya bergabung dengan Komunitas Charlotte Mason Indonesia. Di situ saya membaca berbagai postingan mengenai (betapa menariknya) konsep homeschooling. Saya memberanikan diri untuk membayangkan seandainya Damai ber-“sekolah” secara homeschooling. Tentu hanya sebatas membayangkan.

Pada suatu kesempatan ngobrol dengan istri tetang homeschooling, di luar dugaan ternyata ia pun mengharap Damai bisa belajar di rumah. Bahkan ia mengatakan kalau sejak lama (lebih lama dari ketika ide pertama muncul dari kepalaku) menginginkannya ketika beberapa temannya sudah lebih dahulu memulai konsep sekolah rumah terlebih dahulu.

Iseng, kami menawarkan ide ini ke Damai. Dia tampak begitu tertarik dengan ide ini dan mengajukan berbagai pertanyaan. Dan yang mengejutkan kami, dia bersedia. Kami yang tidak siap dengan jawabannya tentu saja terkejut, dan menganggap itu hanya spontanitas saja. Namun selama beberapa hari, dia terus menanyakan kapan dia bisa mulai “sekolah” di rumah. Kami masih ingat itu adalah 2 minggu setalah masuk sekolah di kelas 3. Mamanya dengan spontasn menjawab bahwa paling cepat tahun depan kalau mau naik kelas 4. TIga minggu kemudian Damai meminta apakah bisa lebih cepat, katakanlah Januari 2015? Dengan “berat hati” kami pun menyetujuinya. Tentu berat buat kami, karena itu artinya, kami harus (tampaknya) benar-benar menyiapkan diri, bukan hanya konsep namun juga teknis – segala sesuatu mengenai pelaksanaan homeschooling tersebut (dengan lebih cepat). Kami pun masih berpikir bahwa nanti sebelum Januari 2015, Damai akan berubah pikiran.

NAMUN TERNYATA DUGAAN KAMI MELESET……. (Lanjut ke bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s