Sumpah, Tak Mudah……. (2)

Seperti yang saya ceritakan di bagian pertama, sekolah telah menjadi rutinitas (yang menyenangkan) untuk Damai selama kurang dari 4 tahun belakangan ini. Tentu saja rutinitas itu juga telah menjadi bagian dari kenyamanan kami, karena segala rutinitas kami pun telah menyesuaikan dengan jadwal hariannya.

Sampai kemudian kami berpikir untuk melaksanakan homeschooling untuk anak kami, yang awalnya hanya sambil lalu, karena kami yakin Damai akan menolaknya. Namun ternyata setelah beberapa saat (kurang lebih) 3 bulan, dia keukeuh meminta belajar di rumah. Kami pun menyerah dan Damai meminta awal Oktober, namun setelah kami bertanya ke sekolah, ternyata tgl 11 Oktober Damai harus menjadi mayoret dan anggota choir di acara Open House. Saya memastikan bahwa jangan sampai Damai “berkeinginan” untuk homeschooling, hanya karena ingin “lari” dari tanggung jawab sebagai mayoret atau pentas bersama paduan suaranya. Maka kami pun menawar Damai agar ma memulai homeschooling setelah tgl 11 Oktober 2014.

Damaipun setuju. Yang membanggakan sekaligus mengharukan kami adalah walaupun Damai sudah tahu bakal homeschooling mulai minggu depannya, namun dia tetap bersemangat mengerjakan PR yang diberikan gurunya. Dia pun tak tampak bersedih dengan rencana atau keputusan yang dia mau. Kamis, 9 Oktober, Damai membagi-bagi kue perpisahan untuk teman-temannya. Hampir semua teman-teman perempuannya menangis saat mereka tahu Damai akan segera memulai homeschooling nya (Damai nya cool-cool aja..he ..he…). Momen itu terasa dramatis. Sampai kemudian tibalah hari terakhir Damai pergi sekolah yaitu Sabtu, 11 Oktober 2014. Damai bersemangat ke sekolah pagi-pagi krn mau jadi mayoret dan kelompok drum bandnya adalah sebagai pebuka acara. Saya sengaja mengambil cuti dan bersama istri saya mengunggu dari awal sampai akhir acara. Saat menunggu Damai pentas, kesibukan kami adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang cenderung serupa dari para orang tua, baik yang kami kenal maupun yang tidak terlalu dekat.

ADA MASALAH APA DAMAI DENGAN SEKOLAHNYA?

Pertanyaan itu yang paling sering ditanyakan secara umum. Tentu tak mudah bagi kami menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Karena secara konsep, begitu panjang dan mendetil yang perlu kami sampaikan. Satu jawaban pasti akan menimbulkan pertanyaan yang lain. Satu penjelasan pasti menimbulkan tanda tanya berikutnya. Maka kami pun sepakat untuk banyak orang kami sampaikan bahwa tidak ada masalah sedikit pun dengan sekolah. Sekolah telah memberikan banyak hal yang baru untuk anak kami. Hanya saja Damai ingin merasakan pengalaman berbeda dan lebih intensive belajar dengan papa mamanya. Dan benar saja, jawaban ini pun memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Beberapa “yang beruntung”, kami berikan penjelasan yang lebih komprehensif. Sedangkan yang lain, kami biarkan sibuk dengan syak dan prasangka.

Masih banyak pertanyaan yang perlu kami “pertanggungjawabkan”, misalnya tentang sosialisasi, evaluasi belajar, nilai-nilai rapor nya, ijazah, ujian akhir/nasional, sampai hal-hal detil lainnya. Tapi biarlah, jawaban-jawaban tersebut bisa jadi bahan postingan saya nantinya mungkin.

GURU DAN TEMAN TERBAIK

Konsekuensi yang harus kami ambil adalah kami menjadi lebih sibuk dengan hari-hari kami. Menyiapkan bahan pelajaran, bacaan pendukung, kurikulum dan tentu saja rancangan kegiatan yang menyenangkan sebagai pendukung proses belajarnya. Kami harus siap menjadi kepala sekolah dan guru yang baru untuk anak kami. Kami pun secara mental harus siap menghadapi keadaan yang anti mainstream. Pertanyaan demi pertanyaan penuh selidik harus kami hadapi. Tentu bukan hanya karena kami ingin tampil beda saat kami memutuskan ini. Berbagai kajian dan pertimbangan yang kami olah untuk kami matangkan dengan ilimu-ilmu kami yang sempat mengenyam Ilmu Pendidikan kala kuliah dulu.

Kami secara pribadi setuju dengan pendapat bahwa anak-anak usia dini, lebih baik, menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang tuanya. Tentu kami tidak lupa menyeimbangkan dengan kegiataan-kegiatan yang berbasis komunitas yang memungkinkan ia tumbuh menjadi pribadi yang secara sosial pun peka tanpa harus tumbuh di sekolah formal. Paling tidak di pedidikan dasar. Kami sadar bahwa perkembangan anak tidak hanya didasarkan pada aspek kognitif saja, namun juga bagaimana ia tumbuh dengan sisi afektif dan psikomotorik yang seimbang. Kecerdasan-kecerdasan spiritual dan emosional biarlah kami kembangkan dengan program-program yang kami susun bersama dengan bantuan berbagai referensi, masukan dan pengalaman hidup kami. Kami ingin anak kami membuat kami “sibuk belajar” lagi seperti halnya ia pun “sibuk belajar” dalam kegiatan “bersekolah baru”nya di rumah. Tentu kami tidak mebutakan diri terhadap segala masukan, karena kamipun masih belajar dan terus belajar, sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai teman. Kami pun terus mengasah diri agar bisa mempertanggungjawabkan perkembangan anak kami.

Semoga komitmen kami untuk secara maksimal menghabiskan waktu untuk anak kami dapat berbuah manis di kemudian hari. Kenangan-kenangan akan papa mama nya sebagai teman terbaik di antara teman-temannya yang lain dapat menginspirasinya  menjadi pribadi yang utuh. Suatu saat, kalaupun ia berubah pikiran dengan pertimbangan-pertimbangan mandirinya saat ia lebih dewasa, kami pun secara sukarela tidak akan menghalangi untuk “kembali” ke sekolah (formal). Namun jika sendainya ia tetap menikmati proses belajarnya seperti sekarang, kami harus terus secara sukarela siap menjadi pendamping yang terbaik.

Sumpah, tak mudah….

Papanya Damai

Gading Serpong, 15 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s