Menulis Itu (Katanya) Gampang

penaSebagian besar orang berpendapat kalau menulis itu sesuatu yang susah. Saya pun termasuk yang mengamini hal tersebut. Menulis adalah aktivitas yang kompleks yang membutuhkan analisa, kemampuan teknis menulis dan tentu saja berbahasa yang runut dan berbagai aspek yang lain.

Mengarang atau menulis bagi saya di masa sekolah (SD sampai SMA) menjadi tugas yang cukup membebani. Tugas itu menjadi sebuah momok di saat saya (dan teman-teman) tidak ada mood untuk menulis, “dipaksa” membuat tulisan. Sementara beberapa tahun kemudian, saya baru sadar, jangan-jangan saat kami menulis, Pak Guru dan Bu Guru sibuk koreksi ulangan harian kami. Mungkin kalau jaman itu sudah ada internet atau sosmed, tugas mengarang itu akan lebih sering diberikan…he he he…Mungkin….

Pada saat itu mengarang bukan menjadi sebuah ekpresi perasaan hati atau hasil olah pikir. Kegiatan itu menjadi sebuah perkosaan gagasan yang dibatasi oleh tema yang diberikan guru dan juga jam pelajaran. Akhirnya ungkapan “mengarang indah” dengan ukuran keindahannya adalah seberapa cepat satu halaman bisa rampung terisi dengan kata-kata (yang sering kali  ga nyambung) menjadi akrab di kalangan pelajar.

Arswendo: Mengarang itu Gampang (- Gampang Susah)

Beberapa tahun yang lalu saya senang sekali  ketika menemukan salah satu karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul Mengarang Itu Gampang. Buku itu sendiri disajikan dengan cara lain dan tergolong unik menurut saya. Bukan dengan cara ekspositif tapi menggunakan pendekatan tanya jawab. Mmmm…kreatif dan sungguh menarik. Arswendo mencoba memaparkan betapa gampangnya menulis itu dari sudut seorang pembaca yang menyampaikan pertanyaan-pertanyaan umum mengenai teknik penulisan, pencarian ide dan beberapa hal teknis lainnya. Harapannya, pertanyaan-pertanyaan itu mewakili apa yang ada di benak pembaca dalam usaha mencari solusi mampetnya kemampuan menulis.

Menurutnya, menulis apapun, baik itu artikel, naskah drama, cerpen atau puisi harus di dahului dengan ide. Masalah teknis itu belakangan, sepanjang seseorang bisa membaca dan menulis. Kemampuan mengembangkan ide menjadi hal yang wajib bagi seorang penulis.

Tentu tidak serta merta setelah menyelesaikan buku tersebut, kita jadi jago menulis. Satu pesan yang disampaikan mantan pemimpin tabloid Monitor itu adalah dengan tidak bosan terus mencoba menulis dengan berbagai ide yang muncul secara spontan. Apapun ide itu, selalu rekam dalam catatan, dan biarlah dikembangkan suatu saat nanti.

Menulis itu Urusan Hati

Ketika saya mengenal cinta (monyet) di awal-awal tahun pertama sekolah menengah pertama (SMP), saya sangat produktif membuat puisi (cinta dan kegalauan). Satu gadis saja sudah cukup sebagai sumber  inspirasi untuk tema-tema puisi saya. Kegalauan dan kegembiraan silih berganti menjadi telaga ide untuk membuat coret-coret di halaman-halaman belakang buku tulis saya waktu itu. Rasanya saat itu menulis menjadi sebuah kebutuhan dalam mencurahkan segala isi perasaan. Curhat dengan cara ini, saya pikir lebih aman dibandingkan curhat ke teman yang mungkin membocorkan cerita saya yang seorang pemalu ini…..

Kalau ada pertanyaan, bisa ga bikin puisi sekarang? Jawabannya: sulit. Bukan masalah kering ide karena istri saya bukan sekedar telaga ide tapi lautan inspirasi. Bukan begitu Ma?, tapi suasana hati, fokus dan perhatian sudah memprioritaskan hal-hal lain (seperti utang, tagihan, dll).

Menulis itu Butuh Motivasi

Ide atau inspirasi, sebanyak apapun, jika tanpa ada motivasi menulis, rasanya sulit diwujudkan dalam bentuk tulisan.  Menulis menjadi kegiatan menyenangkan jika yang ditulis adalah sesuatu yang melibatkan emosi atau pengalaman luar biasa. Kata-kata seakan meluncur tiada henti untuk melukiskan betapa hebat perasaaan atau pengalaman yang dialami. Banyak pula orang menjadi penulis karena memang profesinya adalah penulis atau wartawan. Tuntutan pekerjaan dan motif ekonomi menjadi penyemangat untuk terus memompa keluar ide dan gagasan sebagai bahan tulisan. Tulisan juga bisa menjadi ajang pencitraan. Dengan tulisaan, citra diri yang mau ditampilkan biasanya adalah cerdas dan terpelajar. Hal ini tidak lepas dari kesan, bahwa tidak semua orang bisa menulis, kecuali si penulis ini emang pinter. Alasan lain, tentu, tidak bisa menutup kemungkinan juga, kalau menulis adalah ajang hobi, yang mampu menciptakan ruang sebagai kegiatan yang rekreatif bagi pelakunya.

Lepas dari apapun alasan orang menulis, menulis memerlukan lecutan untuk memaksa orang untuk mencurahkan ide nya dalam bentuk tulisan.

Menulis itu Kebiasaan

Sekitar tahun 2005 – 2008, ketika booming nge-blog, rasanya ketinggalan jaman jika tidak punya blog di blog provider macam WordPress, Multiply, Blogspot, dll. Saat itu kegiatan blogging menjadi penanda gaul tidaknya orang dalam beraktivitas di internet. Kegiatan menulis menjadi digandrungi oleh sebagain orang saat itu.

Seiring munculnya media sosial yang lebih praktis seperti Facebook dan Twitter, yang tidak memerlukan “keringat” lebih untuk eksis di dunia maya, nge-blog menjadi jauh kalah populer. Cukup menulis sepatah-dua patah kata atau sebaris kalimat sebagai status, cukup seorang Facebooker “mencurahkan” apa yang dirasakannya saat itu.

Menulis melibatkan proses kognitif dan psikomotorik dibumbui dengan aspek afektif. Menulis tidah hanya sampai tahap concepting atau brainstorming. Layaknya aktivitas psikomotorik lainnya, berjalan, berlari atau berenang, yang terpenting adalah menggerakkan anggota tubuh yang diperlukan – dalam hal ini tangan. Jadi jika mau menulis, ya menulislah. Jangan hanya berhenti berkhayal untuk membuat tulisan dan berharap adakadabraaaa…..muncul tulisan!!!

Sebuah tulisan mungkin tidak bisa terjadi dalam durasi waktu tertentu. Seringkali, ia membutuhkan perbaikan di sana-sini. Wajar, apalagi baru tahap awal. Segala sesuatu tampak luar biasa sulitnya pada awalnya.  Terus belajar dan belajar akan memaksa kita untuk terus meningkatkan kualitas tulisan kita.

Akhirnya, ini pendapat saya, yang terpenting bukan seberapa banyak teori  penulisan yang kita punya, namun seberapa besar determinasi kita untuk menciptakan tulisan seraya belajar untuk mengembangkan kualitas tulisannya. Ya udah itu aja…Nulis yuk!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s