Mendefinisi Ulang Kata “Romantisme”: Sebuah Refleksi

Beberapa hari yang lalu, saya memposting foto-foto saya dan istri pergi mendaki Gunung Lawu di Facebook dan menulis cerita tentang pendakian itu di blog ini. Mendaki gunung menjadi cara kami untuk “merayakan” peringatan pernikahan kami yang ke-10. Banyak yang memberi selamat, namun justru lebih banyak yang “lupa” memberi selamat karena lebih sibuk memberi komentar tentang keromantisan yang terlihat dari foto-foto kami di puncak gunung itu, yang terkenal sebagai poros/sumbu Pulau Jawa itu.

Jpeg

Tentu bukan tujuan kami untuk sekedar narsis dengan foto-foto kami dan mengumpulkan banyak ucapan selamat. Bagi kami perjalanan nyentrik kami ini menjadi ziarah batin kami berdua dalam merefleksikan perjalanan 10 tahun pernikahan kami. Duduk di sebuah restaurant dengan suasana remang-remang memang pilihan “mudah” untuk kami lakukan. Tapi tentu pilihan itu menjadi terlalu lumrah dan terlalu mudah untuk mengapresiasi pencapaian 10 tahun perjalanan ini. Kami pengin berbeda. Kami menginginkan lebih banyak aspek yang tersentil daripada sekedar keintiman berdua yang dibalut suasana romantisme yang “hanya” berlangsung dalam hitungan 1 – 2 jam.

MENGAPA NAIK GUNUNG?

Seperti yang saya ceritakan di sini, bahwa persiapan naik gunung sudah kami mulai sejak 3 – 4 bulan sebelumnya. Foto-foto yang terlihat bagus dengan lanskap pemandangan yang (bagi saya) luar biasa indahnya adalah bonus untuk perjuangan kami. Foto-foto itu sejatinya adalah etalase dalam pernikahan kami. Sejatinya “keindahan” sesungguhnya adalah proses dalam mencapai spot-spot dalam pengambilan foto tersebut. Tapi sekali lagi, tujuan kami bukan untuk sekedar foto dan difoto di tempat-tempat tersebut.

Menjawab pertanyaan di atas, kami mengibaratkan perjalanan pernikahan kami bak perjalanan panjang, berliku, dan penuh tantangan. Perjalanan yang unik yang kami mulai dari bawah, naik tajam nan terjal dalam mencapai tujuan akhir kami. Mendaki gunung menjadi representasi yang komprehensif yang mampu mewakili uniknya perjalanan pernikahan kami.

Honeymoon Stage (Fase Bulan madu)

Pendakian selalu dimulai dengan antusiasme yang tinggi karena cita-cita yang sudah diamini bersama. Menit-menit awal perjalanan menjadi bulan madu kami. Tenaga yang masih berlebih dan suasan hati yang masih penuh keceriaan menambah sensasi perjalanan “bulan madu” kami. Bekal di backpack kami yang masih berlimpah menambah semangat kami. Intensitas langkah kami tidak lah terlalu tergesa mengingat banyak hal baru yang bisa kami nikmati. Mengambil foto dan video di berbagai spot menjadi hiburan yang mewah buat kami. Layaknya masuk di lingkungan dan suasana yang baru, honey moon stage membuat segalanya nampak indah.

Rejection Stage (Fase Penolakan)

Target yang harus kami capai, yaitu sunset masih jauh dari jangkauan kami. Untuk itu kami mempercepat langkah kami, sementara medan semakin sulit. Fisik terasa perlahan tapi pasti menurun. Suasana hati yang mulai berubah menuntut kedewasaan dalam menata dengan baik agar tidak mudah terpancing sesuatu yang tidak mengenakkan hati.

Kami hanya berdua. Kami adalah team, yang selalu harus saling menyemangati tapi di saat yang bersamaan sering menuntut untuk dimengerti dan dipahami. Tarik ulur kedewasaan diperlukan di saat suasana semakin menantang dengan semakin terjalnya perjalanan dan ketidakpastian akan kapan kami mencapai tujuan kami. Fase ini menjadi fase krusial kami dalam perjalanan yang masih jauh untuk dituntaskan.

Adjustment and Reorientation Stage (Fase Penyesuaian)

Penyesuaian mau tidak mau harus dilakukan. Tahapan emosi berikutnya menjadi lebih tertata. Meski kondisi fisik terus menurun dan perbekalan semakin menipis, upah perjalanan kami sedikit demi sedikit terbayar. Keindahan alam di kanan kiri seakan menghapus lelah meski sesaat. Tebaran bunga keabadian Edelweis menyuguhkan suasana yang romantis dalam arti sesungguhnya. Kesendirian kami berdua di lengang alam di dataran lebih dari 2000 MDPL memberi privilege untuk kami berdua. Ya, alam Lawu ini terasa milik kami berdua.

Namun semakin tinggi kami mendaki, bahaya dan tantangan sejatinya semakin mengintai. Jurang yang tertutup kabut seakan mngintai kami di saat kami lengah. Pun di saat kehidupan rumah tangga dalam kenyataannya sering kali menghadapi “bahaya” yang tidak tampak. Bisa berkaitan dngan masalah keuangan, relasi maupun pola asuh anak.

Perbedaan pendapat juga menjadi dinamika dalam perjalanan kami. Keputusan jalan yang mana yang perlu ditempuh atau kapan kami perlu istirahat kadang menjadi diskusi seru.

Adaptation Stage (Fase Adaptasi)

Menjelang area puncak, pandangan semakin indah. Banyak pepohonan asing yang jarang kami lihat. Hamparan rumput menghijau dipadu dengan tebing-tebing batu terpadu dalam komposisi yang pas yang mnghadirkan lukisan 3D yang luar biasa indahnya. Terbersit angan, seandainya kami bisa punya rumah di tempat itu. Ah, damai sekali kehidupan  di tempat ini. Jauh dari hiruk pikuk keramaian yang bising. Emosi sering teraduk-aduk karena tekanan pekerjaan, tanggung jawab sosial maupun tuntutan ekonomi.

Suguhan keindahan yang melenakan kami seakan menjadi penghalang kami untuk beranjak dari “kenyataan hidup”. Rasa letih dan penat seakan bersembunyi tak mau disalahkan, bersembunyi di balik suasana indah di sekitar kami, sebagai pihak yang dikambinghitamkan untuk keengganan kami beranjak.

Kembali ke Kenyataan….

Menjelang petang kami sampai di Puncak Lawu. Puncak tertinggi sebagai “tujuan akhir” perjalanan sudah kami capai. Penat dan letih seakan sirna di sapu angin dan kabut yang menerpa badan kami. Sihir keindahan Puncak Hargo Dumilah di ketinggian 3265 MDPL seharusnya menjadi selimut kelelahan kami dan obat paling mujarab untuk memulihkan kondisi tubuh-tubuh lelah kami. Tapi harapan dan kenyataan seakan musuh bebuyutan yang saling bertarung untuk menjadi pemenang. Dan kenyataannya, pemenangnya adalah suasana yang lengang dan rasa dingin yang teramat sangat menyiksa kami. Maka kami pun harus berdamai dan menyerah dngan kenyataan untuk tidak tinggal terlalu lama di “puncak kemenangan” kami.

Kami harus menghadapai (lagi) tantangan-tantangan lain yang jauh lebih berat. Tapi kondisi inilah yang harus segera kami gauli. Memang selama nafas terus berhembus, kehidupan akan terus memberi kejutan-kejutan indah….Kami beradaptasi, kami terkaget-kaget lagi di perjalanan menuruni lereng-lereng gelap berkabut, di antara bukit-bukit membisu yang semakin angkuh di kanan kiri kami. Hanya kesetiaan rembulan redup dan dinginnya malam yang menemai lelah kami untuk segera sampai ke dunia tempat kami tinggal dan beraktivitas sehari-hari.

Terdefinisi ulang

Akhirnya, romantisme mengejawantah dalam perjalanan kami. Bukan sekedar pada foto dan video kami. Sesungguhnya, romatisme tidak hanya berhenti pada tahapan Bulan Madu atau saat-saat indah yang penuh memorabilia cinta masa lalu….. Romantisme adalah hak setiap momen kehidupan, baik dalam dinamika suka maupun duka. Romantisme tidak hanya terekspresikan dengan kata-kata lisan yang manis nan puitis atau sodoran bunga mawar merah segar yang sakan mnjadi trade mark anak-anak remaja dalam mengekspresikan romantisme mereka.

Bagi kami, romantisme adalah mampu tersenyum dengan tulus pemupus lelah dan penat pasangan kita. Rela untuk mampu mnjadi pencetus tawa di saat kita sendiri butuh penghiburan…

Akhirnya….Perjalanan kami masih panjang….Ujian kami belumlah usai…..Biarlah romantisme bukan menjadi setangkai mawar yang beberapa hari ke depan layu, namun menjadi pohon bunga mawar yang selalu bisa kami jaga untuk terus berbunga sepanjang waktu….menemani kami dalam suka duka dan untung malang perjalanan rumah tangga kami.

Dengan penuh cinta,

11 Juli 2015

One thought on “Mendefinisi Ulang Kata “Romantisme”: Sebuah Refleksi

  1. Reblogged this on Smart Mom and commented:
    “Biarlah romantisme bukan menjadi setangkai mawar yang beberapa hari ke depan layu, namun menjadi pohon bunga mawar yang selalu bisa kami jaga untuk terus berbunga sepanjang waktu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s