Mengapa Saung? – Sebuah Permenungan Di Dalam Saung

1452170_10152521728417965_8306334732466208218_nBerbagai alasan mengapa orang membangun saung, gazebo, atau di budaya Bali (dan Jawa) lebih dikenal dengan Bale Bengong. Menggali semangat back to nature banyak saung (baca: usaha jasa pendirian saung) berdiri di sekeliling kita. Saung yang berarti rumah kecil menjadi oase dalam keriuhan kota untk sekedar bernostalgia dengan suasan pedesaan saat bercengkrama dengan orang-orang dekat.

Nilai Artistik Dekoratif

Alasan artistik dekoratif merupakan salah satu alasan populer sebagian orang, karena mempunyai tanah pekarangan yang luas. Saung menjadi elemen (penghias) taman yang cantik di tengah hamparan tanaman hijau berbunga. Karena semangat itu pulalah, saung dirancang secantik mungkin, sekokoh mungkin dan kalo bisa dengan dana yang maksimal demi mencapai titik terindah sebuah bangunan….

Nilai (asli) fungsional sang saung bisa jadi mengalami reduksi karena saung hakekatnya adalah tempat berteduh. Tempat orang bernaung di bawahnya untuk berlindung (dari panas dan hujan) dan/atau beraktivitas di dalamnya. Saung dalam konteks ini bisa jadi lebih sebagai obyek pelengkap (mungkin juga penderita) sebuah pemandangan yang “hanya” bagian dari keindahan secara keseluruhan sebuah taman. Saung dibangun dengan semangat egosentris sang empunya taman. Saung akan mengalami malam-malam sunyi di tengah keramaian bunga-bunga nan cantik.

Nilai Sosial Komunal

Motif lain yang dimiliki (sekelompok) orang dalam mendirikan saung adalah keinginan untuk mempunyai “rumah bersama”. Rumah yang bisa dikerjakan bersama dan digunakan secara bersama-sama. Karena kebersamaan begitu melekat, maka saung dibangun atas ide kolektif dan didirikan di lahan yang bisa diakses oleh banyak orang. Nilai fungsi saung begitu maksimal ketika banyak orang merasa memiliki dan memanfaatkan.

Tidak menjadi soal, bahan bangunan yang digunakan. Bisa saja sangat mahal, karena biaya ditanggung banyak orang atau bisa jadi seminimal mungkin (karena ada yang berbaik hati untuk berdonasi secara khusus dalam membangun saung). Bisa jadi biaya bukanlah isu utama dalam pembangunan sebuah saung. Isu utama dan paling pokok adalah kerinduan untuk bisa beraktivitas bersama, saling curhat, saling olok atau sekedar saling diam karena sibuk dengan rokoknya masing-masing. Sharing moment menjadi kata kunci dalam nilai ini, entah dalam kata, canda atau sekedar sunyi.

Lantas Apa?

Sebetulnya kesuksesan terbesar dalam membangun saung dengan nilai social komunal bukan berdirinya saung itu sendiri. Pertanyaan terbesar adalah lantas apa? Apa yang akan dilakukan setelah saung berdiri. Apakah cukup foto bersama di depan saung? Apakah menunggu momen yang tepat (malam tahun baru – setahun sekali, belum 2 tahun, saung sudah rusak, he he)? Atau saung berubah menjadi shelter (keren bener nich..) buat para tukang Bakso atau BUburAyam keliling?

Membangun keinginan berbagi bersama itu jauh lebih susah daripada membangun saung itu sendiri. Mengundang orang datang untuk hadir dengan rasa memiliki itu yang mahal. Tidak semua orang memang terlibat dalam pembangunan saung. Namun besar kecilnya rasa memiliki tidak dinilai seberapa besar (atau seberapa kecil) sumbang sich kita dalam membangun sebuah saung. Saung adalah subyek kebersamaan. Saung tidak dilihat dari seberapa mahal atap (yang disumbang oleh salah satu anggota komunitas) atau seberapa banyak bambu yang dibutuhkan?

Walaupun tadi disebutkan bahwa saung dalam bahasa jawa lebih dikenal dengan Bale Bengong, namun bisa jadi kata SAUNG berasal dari Bahasa jawa dan Sunda (saya kurang paham bahasa Sunda). Saung bisa diartikan sebagai Srawung. “Srawung” mempunyai arti kata bergaul, berinteraksi. Maka menjadi salah kaprah kemudian ketika saat pembangunan kita guyub tapi setelah sunyi dan paling banter saung hanya digunakan untuk berfoto Selfie.

Tidak relakan kalau saung yang sudah berdiri di satu ruang di BLOK kita berdiri dalam sunyi? Ruang saung yang terbatas itu marilah kita lebarkan dengan ruang hati kita masing-masing…. Karena Saung yang sesungguhnya adalah hati kita, yang bisa menjadi tempat berbagi, berbagi karena SAUNG adalah SRAWUNG…..

POJ02K Celesta, 24 November 2014

Catatan untuk Komunitas Blok J – Celesta

2 thoughts on “Mengapa Saung? – Sebuah Permenungan Di Dalam Saung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s