Catatan Pendakian Gunung Lawu (Bagian 1 – Pendakian)

Pernikahan merupakan salah satu momnt terindah dalam perjalan hidup sebagian besar orang. Maka selayaknya bahwa peringatan pernikahan menjadi sebuah ritual tahunan yang tidak boleh terlewatkan. Jika memungkinkan, peringatannya dibuat seromantis mungkin untuk bisa mencapai romantism flashback dalam memperingatinya.
Pun dengan kami. Kami memutuskan untuk memperingati pernikahan kami yang k-10 dengan cara yang tidak biasa. Kami memang mengistimewakan dasa warsa pernikahan kami ini. Usia psikologis pernikahan yang menginjak 10 tahun pertama harus dibuat berbeda.
PERSIAPAN
Maka, kami memutuskan untuk MENDAKI GUNUNG. Saya mengusulkan untuk naik Gunung Lawu mengingat Gunung Lawu terletak di Jawa Tengah, sekalian mudik untuk acara keluarga tahunan. Plus, semasa SMA dulu (21 tahun yang lalu), saya pernah naik Gunung Lawu dengan track yang tidak terlalu ekstrim.
Kami sadar, fisik tidak sekuat kami 10 atau 15 tahun yang lalu. Berat badan juga sudah jauh lebih melambung. Berat badan saya 88 kg per awal April 2015 dan istri saya 60 kg. Maka sekalian melatih fisik kami, kami juga mlakukan diet ketat selama 3 – 4 bulan. Pola latihan fisik sprti lari pagi scara rutin, gym dan istri gabung ke club muay thai menjadi santapan kami untuk meningkatkan kualitas isik dan stamina kami.
Dalam pengaturan pola makan (diet), kami menerapkan OCD sebagai diet harian kami, dan dalam 2 minggu sebelum pendakian, kami melakukan diet Mayo. Alhasil, berat badan saya turun menjadi 72 kg dan istri saya 53 kg. Masih jauh dari berat badan kami saat kami menikah, berat badan saya waktu itu 64 kg dan istri 48 kg. Tapi dari segi kualitas fisik dan stamina, kami merasa jauh lebih fit.
PENDAKIAN
Kami menuju ke Jawa Tengah hanya berdua. Anak kami, Damai, kami tinggal di rumah Mbahnya. Kami pergi dari tgl 30 Juni sampai dengan 4 Juli 2015. Untuk pendakian dilakukan tanggal 1 Juli dan kami saat itu berencana untuk menginap di Puncak Lawu dan memperingati pernikahan kami tepat jam 12 malam di atas Puncak Lawu.
Semua perlengkapan dan peralatan mendaki gunung sudah saya pesan jauh hari melalui Kece Adventure di Solo dan dibantu urus oleh adik sepupu kami, Feby, yang memang tinggal di Solo.
Berangkat dari Pasar Senen tgl 30 Juni, jam 16.00 dengan kereta api ekonomi, Brantas. Kami tiba di Stasiun Solojebres pukul 03.00 pagi – telat 1 jam dari perkiraan waktu yang tertera di tiket kereta. Kami sudah ditunggu Feby dan dijemput untuk istirahat di rumahnya sekaligus repacking untuk keperluan pendakian.
Setelah istirahat, repacking dan sarapan, kami berangkat menuju ke arah Tawangmangu pukul 6.30 dari semula kami rencanakan jam 05.00 pagi. Menggunakan sepeda motor, kami menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dan tiba di Cemoro Kandang (salah satu basecamp populer selain Cemoro Sewu untuk menuju Puncak Lawu). Setelah menyelesaikan urusan administrasi sederhana, pendaftaran dan pembayaran, yang dilayani oleh Mas Babi dari AGL (Anak Gunung Lawu), kami pun mulai pendakian tepat pukul 08.00 WIB.
Pos 1
Setelah melakukan pendakian selama 1 jam kami sampailah di Pos 1. Sekitar pukul 09.00 kami tiba di sebuah bangunan beratap seng. Kondisi bangunannya penuh dengan coretan dan kotor. Setelah beristirahat selama kurang lebih 10 – 15 menit, kami pun melanjutkan perjalanan.

Jpeg

Di Pos 1

Pos 2
Perjalanan dari POS 1 menuju POS 2 kurang lebih sama keadaannya. Jalanan menanjak dengan tanah liat/merah yang tidak rata. Pepohonan masih banyak di kanan dan kiri, namun di banyak titik terdapat bekas kebakaran atau sengaja di tebang. Kami tiba di Pos 2 sekitar pukul 10.00.

Jpeg

Di Pos 2

Pos Bayangan
Jarak antara Pos 2 dan Pos 3 sangatlah jauh. Maka di tengah-tengah perjalanan, dibangunlah Pos Bayangan. Pos bayangan ini hanya terdiri dari batang-batang kayu yang menopang seng. Tidak ada material batu atau adukan semen untuk dinding-dinding nya. Kami tidak terlalu lama singgah di Pos bayanga tersebut. Jadi begitu tiba di sana pukul 11.15, kami segera melanjutkan perjalanan.
Pos 3
Setelah berjalankurang lebih 2 jam, kami sampai di POS 3. Lucunya, karena jarak terlalu jauh antara Pos bayangan dan Pos 3, kami beristirahat beberapa puluh meter sebelum/di bawah Pos 3. Kami terlalu capek untuk melanjutkan perjalanan, tanpa mengetahui bahwa beberapa saat lagi, lokasi Pos 3 sudah dapat dicapai. Tepat pukul 13.00 kami bisa menjangkau Pos 3.
Pos 4

Jpeg

Berpose di seberang Pos 4

Pos 4 terletak di sebuah hamparan rerumputan. Kondisi Pos ini tidak jauh berbeda dengan ketiga pos sebelumnya. Di depan Pos 4, di tengah hamparan rerumputan terdapat paling tidak 2 prasasti menyerupai nisan yang bertuliskan nama orang yang sudah meninggal. Dari informasi yang saya dapatkan, itu bukan makam, hanya berupa penanda, bahwa mungkin di lokasi inilah, orang-orang tersebut meninggal, namun jasadnya dipastikan dibawa turun. Kami mencapai Pos 4 pukul 15.00 WIB. Keadaan langit masih terang, namun langit diterpa kabut yang disapu angin sehingga menambah indahnya keadaan sekeliling kami.
Pos 5
Kami bergegas untuk segera mencapai Pos 5. Dengan target bahwa kami bisa melihat sunset di Puncak hargo Dumilah, maka kami memompa semangat untuk bisa segera sampai setidaknya Pos 5 sebelum gelap. Jalanan menuju Pos 5 berupa jalanan yang penuh bebatuan, tidak terlalu banyak track mendaki, tp justru track yang menurun. Kami seperti menuju lembah yang di penuhi oleh perdu-perduan, seperti Edelweis dan jenis tanaman yang lain.

Jpeg

Pos 5 – hanya berupa papan penunjuk arah

Pukul 16.10, akhirnya kami mencapai Pos 5. Pos 5 ini hanya berupa penanda, berupa papan nama yang menunjukkan arah ke Cemoro Kandang (arah berlawanan dengan arah kedatangan kami, arah Puncak Hargo Dumilah (arah menuju ke atas) dan arah ke Hargo Dalem, arah yang berbelok ke kanan, jika kami membelakangi track menuju Puncak.
Kami beristirahat sekitar 10 menit, sebelum bergegas menuntaskan track terakhir kami untuk mencapai Puncak hargo Dumilah.
Puncak Hargo Dumilah
Jalur ke Puncak di tempuh kurang lebih 30 menit. Jalanan sangat curam dan diperparah dengan jalanan penuh batu yang berserakan memenuhi jalanan. Bebatuan itu mudah longsor jika kami tidak berhati-hati saat memilih pijakan kaki.
Dengan sisa-sisa tenaga dan kondisi kaki yang sangat letih, kami akhirnya sampai juga di sekitar pukul 16.45.

Jpeg

Akhirnya….

Perjalanan mendaki sampai ke Puncak Hargo Dumilah memang melelahkan. Tapi bagi kami, perjalanan turun gunung, kembali ke Basecamp sungguh di luar perkiraan kami….Dramatis dan menguras emosi kami berdua. Kami akan ceritakan di Bagian 2.
(Bersambung)

One thought on “Catatan Pendakian Gunung Lawu (Bagian 1 – Pendakian)

  1. Pingback: Selalu Ada Yang Pertama | Smart Mom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s