Menyoal Cinta Sejati

“Kenapa ya aku kok ngerasa tidak bisa menemukan cinta sejatiku“, kata seorang teman suatu ketika. “Lho memangnya kenapa?” tanyaku balik. Seraya menghela nafas, dia menyahut.”Aku gampang sekali jatuh cinta. Setiap kali ketemu cewek cantik dan sexy, aku jatuh cinta. Aku capek gonta-ganti pacar. Aku gampang bosan. Takutnya sampai suatu saat aku harus menikah, aku tidak menemukan cinta sejatiku”. Aku hanya nyengir saja, sambil ngebathin,”Senengnya bisa gonta-ganti pacar”.

Itu terjadi lebih dari 10 tahunan yang lalu, ketika kami masih sama-sama belia. Kurang tahu apakah dia sudah “menemukan” cinta sejatinya atau belum, karena  terputus komunikasi di antara kami.

Kalo saja percakapan itu terjadi sekarang, saya merasa mempunyai sesuatu sebagai jawaban atas keluh-kesahnya, ya paling tidak daripada sekedar nyengir ga jelas. 

Menurut saya, cinta tidak ditemukan, namun dikembangkan, dipupuk kemudian disemai bersama-sama (pasanganya masing-masing). Ini membutuhkan proses. Bukan sekedar momentum atau suatu accident- kecelakaan, (ter-)jatuh (pada) cinta. Bahwasanya jatuh cinta mungkin bisa jadi awal proses tersebut. Namun yang lebih hakiki adalah kegigihan dalam mempertahankan rasa tersebut.

Jatuh cinta itu suatu yang gampang, bagi sebagian besar orang. Melihat hal yang menarik, tertarik, kemudian terjatuh-hatilah dia pada yang menarik itu. Sesederhana seperti seorang wanita tertarik melihat sepatu bagus di rak pajang sebuah mall, atau seorang pria melihat sebuah mobil mewah melintas di hadapannya.

Namun, cinta (sejati) dalah hasil perjuangan panjang, jalan yang berliku. Rasa luhur ini lahir dari proses mencintai pasangan, proses mengatasi kebosanan terhadapnya, dan kerelaan hati untuk mengatasi “jatuh cinta – jatuh cinta” yang sangat manusiawi ia alami. Ia tidak spontan, perlu bukti – bukan sekedar janji-janji manis selayaknya pasangan muda mudi berpacaran. Kehebatan proses ini tidak ditandai dengan gempita perasaan, dan bertaburan kata rayu, namun proses menerima apa adanya dan bersedia beradaptasi dengan pasangannya – kerelaan hati untuk membunuh ego-ego pribadi.

Jadi, satu pertanyaan saja,”Sudahkah Anda mencintai pasangan Anda?”.

3 thoughts on “Menyoal Cinta Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s