(Berkah) DPT yang Kacau
April 15, 2009
Maksud hati pengin golput. Golput bukan suatu pilihan karena alasan ideologis, tapi lebih karena tidak terdaftar di DPT (di daerah domisili KTP saya dibuat). Ditambah malas nyontreng juga mungkin, karena begitu tahu nama tak ada di DPT, jadi punya alasan (kuat) untuk tidak nyontreng. Saya pikir, kalo toh tidak terdaftar di pemilu legislatif tidak apa apa, asal nanti saat pilpres, harus sudah terdaftar. Bagi saya pilpres sudah jelas figur-figurnya. Tidak seperti caleg-caleg yang mempunyai (katanya)visi dan misi yang seragam dan penuh janji-janji yang menggelikan.
Suatu hari, semingguan menjelang penyontrengan, datanglah seorang petugas (kebetulan ia adalah satpam di cluster, tempat saya tinggal) membawa suarat undangan dari kelurahan untuk ikut penyontrengan. Aneh sekali pikir saya, karena saya belum punya KTP di tempat saya tinggal (saya masih menggunakan KTP yang lama dari tempat saya kontrak dulu).Saya memang belum urus pemindahan KTP karena saya baru pindah, belum genap 1 tahun. Lha kok tiba – tiba nama saya (dan istri) saya dapat undangan penyontrengan.
Sampai saat ini saya tidak mendapat pencerahan sama sekali tentang masalah ini. Tapi paling tidak dengan kacaunya DPT tersebut, saya jadi punya hak pilih.Jangan sampai pilpres besok, saya justru tidak ada di DPT.
Tergencet di Gaya Baru Malam
October 6, 2008
Gaya Baru Malam? Anda mungkin mengenal salah satu nama kereta ekonomi tujuan akhir Surabaya (Pasar Turi?) dari Pasar Senen ini. Tapi punya pengalaman naik kereta ini, saya tidak terlalu yakin.
Saya akhirnya (menyempatkan) pulang mudik tanggal 2 Oktober, pas Lebaran hari kedua. Saya berpikir penumpang kereta api pasti sudah tidak akan melumber lagi. Eh, saya kecele….Semua tiket habis terjual dan yang tersisa tiket kereta api kelas ekonomi Gaya Baru Malam.
Perjalanan 12 jam di dalam kereta yang penuh sesak membuat saya bertekad untuk tidak akan menggunakan kereta ini lagi pada sisa hidup saya. Saya harus berdiri tanpa jeda sedikitpun untuk bergerak, bahkan ke toilet sekalipun. Penumpang yang lain berdiri tidak sedikit, yang duduk mengglongsor tanpa tiket pun tidak kalah banyaknya.
Setiap stasiun (kecil pun) berhenti dan mengangkut tambahan penumpang, tanpa memperdulikan jumlah penumpang yang telah ada di dalam gerbong yang sudah tergenjet bak ikan teri. Dari satu dua penumpang mereka menginformasikan kalau tiket terus dijual tanpa memperdulikan kapasitas gerbong. Tidak sedikit orang tua yang menggendong anaknya yang masih berumur bulanan, ikut berdesakan dan bermodalkan semangat yang-penting-mudik. Emosi para penumpang meninggi setiap kali berbenturan dengan kepentingan para calon penumpang yang mencoba merangsek untuk naik gerbong. Para petugas tidak berdaya seakan memaklumi kepentingan kedua belah pihak yang tidak terakomodasi oleh perusahaan negara penyedia angkutan massal paling murah ini.
Kemanusiaan seperti terinjak-injak. Hak orang-orang ekonomi lemah untuk mendapatkan fasilitas transportasi yang murah dan manusiawi (tidak perlu nyaman) terampas oleh kegagalan manajemen PT KAI.
Hajatan setahun sekali ini seperti tidak menyisakan cermin untuk sekedar memberi perbaikan untuk tahun depan. Setahun waktu yang cukup membuat segala sesuatunya lebih baik. Atau jalan pikiran mereka berkata”, Ah setahun sekali ini, namanya juga lebaran….., Wajar dong…”.
Akhirnya, semua kekesalan teredam oleh jalan pikiran sederhana para penumpangnya sendiri”, Namanya juga murah, mosok, mo dapet yang edhum iyub Mas….. Kita, rakyat kecil, dah biasa tergencet di negeri ini….namanya juga negara (mencoba) berkembang”.
Pulang ke Jawa
October 6, 2008
“Anda berasal dari Jawa?”. Demikian kerap pertanyaan ditujukan ke saya, terkait dengan asal tempat saya dilahirkan. Awalnya agak aneh bagi saya, apalagi saya tinggal di Jakarta yang masih berada di Pulau Jawa.
Kata “Jawa” tentu kemudian dipahami tidak untuk diterjemahakan sebagai Pulau Jawa (Java – English), tetapi cenderung diartikan sebagai sebutan untuk wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, atau Jawa Timur. Istilah ini populer digunakan untuk para perantau yang tinggal di Jakarta.
Kata”Jawa” mengalami penyempitan makna ditinjau dari kaitannya secara geografis. Secara geografis, wilayah yang diempunya kata Jawa ini tentu meliputi seluruh wilayah yang ada di Pulau Jawa. Namun kata ini lebih cenderung bermakna kesukuan. Orang – orang yang tinggal/berasal dari luar wilayah-wilayah yang saya sebut di atas, walaupun tinggal di Pulau Jawa, tidak berhak menyandang gelar Orang Jawa. Mereka adalah yang berasal dari suku Sunda, Betawi, dan Madura.
Namun tentu lain cerita kalau mereka pergi ke pulau-pulau di luar Jawa. Mereka masih memperoleh “hak pakai” nama Orang Jawa, karena tentu cakupannya menjadi lebih luas. Dalam sejarah perjuangan bangsa, tepatnya tahun 1915, Orang Jawa dibahasakan sebagai Jong Java – Pemuda Jawa. Hanya memang para pemuda Betawi menyebut diri mereka sebagai Pemuda Kaum Betawi.
Anehnya kata jawa yang bermakna kesukuan ini tidak diikuti oleh orang-orang dari Sumatra Barat yang bersuku Batak. Mereka yang berasal dari wilayah ini, tidak akan ditanya,”Kapan pulang ke Batak, Bang?’. Yang lebih kerap dilontarkan adalah “, Kapan pulang ke Medan, Bang?”.
Baik, jadi Lebaran kemarin Anda mudik kemana? Ke Jawa, ke Medan atau Sukabumi?
Sedekah untuk Gepeng
September 25, 2008
Berbuat baik untuk orang lain itu harus. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu. Salah stunya memberi sedekah bagi oarng yang tidak mampu, seperti fakir miskin, anak-anak terlantar, atau dikenal dengan gepeng. Namun bagaimana dengan wacana berikut?
Di Jakarta, tampaknya para pengemis, gelandangan, tidak akan pernah hilang. Dari hari ke hari, mereka masih saja tampak berkeliaran di jalanan. Berbagai cara untuk mengusir keberadaan mereka seolah tidak mampu mengusir mereka. Bahkan Perda DKI yang menegaskan akan memberi sanksi kepada siapapun yang memberi “recehan” kepada mereka. Karena ditengarai kebertahanan mereka terkait dengan adanya supply chain oleh pengguna jalanan.
Tampaknya, permasalahan ini ditanggapi beragam oleh masyarakat. Bagaimana menurut Anda? Apakah memberi sedekah kepada fakir miskin di jalanan adalah hal yang masih patut dilakukan atau tidak? Apakah masalah ini hanya sampai pada tataran hati nurani masing-masing?
Warnai Hari-harimu…
September 24, 2008
Judul di atas, saya ambil dari sebuah iklan rokok. Mewarnai hari? Bagi saya, hari adalah sama. Ia merupakan rentang waktu selama 24 jam, dan demi kemudahan pembedaan antara rentang satu dengan yang lain, maka diberikanlah nama untuk masing-masing rentang tersebut. Jadilah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.
Selain nama, tiap rentang waktu mempunyai “warna” dengan berbagai aktifitas ataupun hal-hal lain yang terjadi pada rentang waktu itu. “Warna” hari Senin tentu berbeda dengan hari Sabtu atau Minggu. Senin yang mempunyai kecenderungan adanya kesibukan awal minggu sehingga terciptalah ungkapan’, I hate Monday“. Secara sederhana, ketika saat masih di bangku sekolah, saya tidak suka hari Senin karena harus berangkat lebih pagi karena ada upacara bendera, PR yang belum sempat dikerjakan dan harus berseragam lengkap. Selain itu juga, di hari Senin, saya masih mengalami “after-holiday syndrome“…..bawaannya males….
Pasti setiap orang mempunyai “warna” tersendiri untuk setiap hari yang dilaluinya. Itu seiring dengan tingkat kesibukan, rutinitas, pengalaman pribadi dan lain sebagainya. Maka, setiap orang mempunyai perspektif yang berbeda terhadap hari tertentu. Orang-orang yang ada dalam suatu komunitas mempunyai perpektif yang cenderung sama terhadap suatu hari. Mereka mempunyai kecenderungan rutinitas, dan kegiatan yang sama setiap harinya.
Tergelitik sebuah gambar di kaos yang kebetulan sedang dipakai pengendara motor di depan saya, saat macet, yang berbunyi,”In Bali. everyday is holiday”. Pesan yang ingin disampaikan bahwa Pulau Dewata itu tempatnya orang berlibur dan tamasya. Bagaimana orang yang di Bali dan kerja di perusaahan dan mempunyai kesibukan yang luar biasa, sampai-sampai tidak sempat liburan? Tidak perlu jawaban memang….
Lalu, bagaimana Anda mewarnai hari ini? Selamat bekerja….
One Year of Blogging
September 22, 2008
Melewati 1 tahun bagi blogger dalam mengelola blognya bagi sebagian blogger mungkin sangat berarti karena menunjukkan konsistensi, keuletan dan juga kesabaran dalam mengelola blog. Sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Tidak terkecuali saya.
Saya pun nge-blog sudah saya jalani selama satu tahun. Tepatnya tanggal 25 September 2007, saya memulai mengelola Segokoecing ini dengan postingan pertama saya berjudul “”Medali Emas” untuk Indonesia”.. Saya memang sudah cukup bangga bisa bertahan selama setahun. namun alasan yang saya kemukakan bukan lantaran saya konsisten serta ulet dalam mengelola blog ini. Kalau Anda surfing di blog ini, tidak terlalu banya postingan yang saya publish. Postingan-postingan ini baru gencar belakangan ini saja. Dengan rentang 1 tahun, postingan yang dipublish baru 33 (termasuk postingan ini). Ini sama artinya rata-rata saya menulis 1,5 postingan dalam satu bulan….Ah, cukup ering sekali memang…Belum lagi dilihat dari per click yang tampak, terlihat betapa masih minimnya saya melakukan blog marketing.
Bagaimanapun, nge-blog bagi saya adalah untuk menjaga kesegaran pikiran, agar tetap aktif, kritis dan up to date. Setidaknya dengan masih bertahan di sini, saya begitu banyak mendapatkan banyak inspirasi dari teman-teman blogger lain. Semoga momen emosional ini bisa jadi inspirasi yang lebih buat saya untuk lebih semangat lagi buat nge-blog….
Salam
Plontos: A Brand New Ads Space
September 19, 2008
Kenyataan bahwa kreatifitas merupakan ujung tombak bagi orang-orang periklanan semakin terbukti dengan adanya sebuah berita dari Selandia Baru yang dilansir oleh Koran Tempo ePaper.
Diberitakan bahwa sebuah maskapai penerbangan di Selandia Baru mencari calon-calon penumpang yang bersedia untuk menjadikan kepala plontosnya sebuah space iklan. Tentu kalo Anda bersedia menjadi salah satunya, ada imbalan yang tidak sedikit jumlahnya, 1000 dollar Selandia Baru, kalo dikurskan dalam rupiah menjadi sekitar 7 juta rupiah. Oia, iklan itu harus mejeng di kepala Anda selama 2 minggu. Tidak begitu jelas, syarat apa yang harus dipenuhi untuk menjadi media iklan ini, termasuk apakah kepala peyang atau perlu bebas pitak untuk dapat lolos seleksi ini….
Kalo Anda pernah bermimpi jadi bintang iklan, namun pada akhirnya harus mengubur mimpi itu karena tidak kesampaian, mungkin berita ini akan sedikit memberi secercah harapan baru bagi Anda. Dan pastinya, paling tidak selama 2 minggu, “harga kepala” Anda lebih mahal Rp. 7 juta dari orang-orang kebanyakan.
Anda berminat?
Para Penjaja Jasa Joki Three-in One
September 19, 2008
Aneh mungkin kalo three-in-one saya alihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Memang selain kata tersebut tidak lazim diterjemahkan atau tidak terlalu penting untuk diterjemahkan, tampaknya keberadaan mereka pun tidak dipandang sebagai disturbance bagi Pemda DKI. Walaupun sangat mengganggu bagi pengguna jalanan secara umum. Hal ini tampak dari semakin banyaknya penyedia jasa ini, padahal jelas-jelas ini bisnis illegal dan penuh aksi tipu-tipu. Dan tentu saja semakin jarangnya operasi penertiban oleh Satpol PP.
Saya tertarik menulis postingan ini karena hampir setiap hari, di sepanjang jalur pergi-pulang dari dan ke tempat kerja – sepanjang Jl. Pakubuwono dan Jl. Dr. Satrio (Kuningan) – selalu menemui para penyaji jasa ini. Yang menarik perhatian saya adalah usaha keras mereka untuk mendapatkan tebengan yang tentu berarti rupiah buat mereka.
Banyak cara yang mereka lakukan demi tampil ”profesional” untuk menarik perhatian si empunya mobil agar mau menghentikan mobil dan membuka pintu untuk mereka. Tampil maksimal buat mereka penting untuk alasan tersebut, yang sebelumnya juga sebagai alat mengelabui petugas Satpol agar mereka tampak seperti orang kantoran sungguhan.
Namun apa daya, tampil bak orang kantoran perlu modal yang yang tidak sedikit. Tidak cukup sekedar kemeja lengan panjang yang dimasukkan di celana kain untuk para joki pria, atau tampil dengan dandanan tebal di wajah bagi para perempuan. Tentu mereka tidak pernah ikut beauty class atau training tentang kepribadian dan penampilan. Sehingga wajarlah akhirnya saya pun harus memaklumi terhadap usaha keras mereka, lepas dari masalah legalitas mereka
Ada juga yang lebih memilih menebar efek belas kasihan, terutama ibu-ibu, dengan menggendong anak kecil – entah anak siapa itu. Rasa iba dijadikan added value buat mereka dalam persaingan dengan semakin sengitnya persaingan di dunia perjokian.
Hidup di Jakarta ini memang harus pantang menyerah….
Menyoal Cinta Sejati
September 17, 2008
“Kenapa ya aku kok ngerasa tidak bisa menemukan cinta sejatiku“, kata seorang teman suatu ketika. “Lho memangnya kenapa?” tanyaku balik. Seraya menghela nafas, dia menyahut.”Aku gampang sekali jatuh cinta. Setiap kali ketemu cewek cantik dan sexy, aku jatuh cinta. Aku capek gonta-ganti pacar. Aku gampang bosan. Takutnya sampai suatu saat aku harus menikah, aku tidak menemukan cinta sejatiku”. Aku hanya nyengir saja, sambil ngebathin,”Senengnya bisa gonta-ganti pacar”.
Itu terjadi lebih dari 10 tahunan yang lalu, ketika kami masih sama-sama belia. Kurang tahu apakah dia sudah “menemukan” cinta sejatinya atau belum, karena terputus komunikasi di antara kami.
Kalo saja percakapan itu terjadi sekarang, saya merasa mempunyai sesuatu sebagai jawaban atas keluh-kesahnya, ya paling tidak daripada sekedar nyengir ga jelas.
Menurut saya, cinta tidak ditemukan, namun dikembangkan, dipupuk kemudian disemai bersama-sama (pasanganya masing-masing). Ini membutuhkan proses. Bukan sekedar momentum atau suatu accident- kecelakaan, (ter-)jatuh (pada) cinta. Bahwasanya jatuh cinta mungkin bisa jadi awal proses tersebut. Namun yang lebih hakiki adalah kegigihan dalam mempertahankan rasa tersebut.
Jatuh cinta itu suatu yang gampang, bagi sebagian besar orang. Melihat hal yang menarik, tertarik, kemudian terjatuh-hatilah dia pada yang menarik itu. Sesederhana seperti seorang wanita tertarik melihat sepatu bagus di rak pajang sebuah mall, atau seorang pria melihat sebuah mobil mewah melintas di hadapannya.
Namun, cinta (sejati) dalah hasil perjuangan panjang, jalan yang berliku. Rasa luhur ini lahir dari proses mencintai pasangan, proses mengatasi kebosanan terhadapnya, dan kerelaan hati untuk mengatasi “jatuh cinta – jatuh cinta” yang sangat manusiawi ia alami. Ia tidak spontan, perlu bukti – bukan sekedar janji-janji manis selayaknya pasangan muda mudi berpacaran. Kehebatan proses ini tidak ditandai dengan gempita perasaan, dan bertaburan kata rayu, namun proses menerima apa adanya dan bersedia beradaptasi dengan pasangannya – kerelaan hati untuk membunuh ego-ego pribadi.
Jadi, satu pertanyaan saja,”Sudahkah Anda mencintai pasangan Anda?”.
