Celesta – Sebuah Makna

November 12, 2008

Banyak orang mengerinyitkan dahi ketika mendengar kata “celesta”. Saya pun demikian, setidaknya kurang lebih 3 tahun yang lalu, waktu itu itu saya berboncengan dengan calon istri melewati sebuah perumahan di bilangan Serpong Utara yang lebih dikenal dengan Graha Raya yang sedang dibangun dan namanya adalah CELESTA. Belum terpikir sedikitpun, bahwa kami nantinya akan banyak menghabiskan waktu bersama di perumahan ini.
Beberapa tahun kemudian, atau bulan Februari, ketika pertama kali masuk ke Celesta untuk cek calon rumah (yang belum tentu terbeli waktu itu), tidak terpikir bagi saya untuk mengetahui arti kata CELESTA. Toh, menurut saya, pihak pengembang bisa jadi tidak terlalu mempedulikan makna kata celesta, selain bahwa nama ini terdengar keren untuk sebuah nama cluster dan cukup marketable.

Namun, begitu hampir 4 bulan tinggal di cluster ini, pengin juga mengetahui arti kata celesta. Memang sich, mungkin bagi sebagian orang, nama tidak terlalu penting. Yang penting cicilan perbulan tidak naik karena suku bunga yang semakin tidak karuan karena krisis ekonomi global…he..he…(semoga krisis ini tidak berlanjut lebih parah, dengan terpilihnya Obama – Lho????)…

Beberapa hari yang lalu saya coba surfing mencari arti kata celesta. Dari Wikipedia, tersebutlah bahwa celesta merupakan jenis alat musik sejenis piano yang biasa digunakan oleh para pianis Jazz sebagai salah satu alat musik alternatif.

Di salah satu kalimat di artikel tersebut, juga disebutkan bahwa, kata celesta atau celeste (bahasa Perancis) berarti heavinly – surgawi. Ini berhubungan dengan suara yang dihasilkan dari alat musik ini yang sangat lembut. Untuk lebih lengkap mengetahui makna kata celesta silahkan klik di http://en.wikipedia.org/wiki/Celesta

Atau mungkin di antara Celestaers (sebutan kerennyapara penghuni cluster ini) yang lain atau para pembaca mempunyai pendapat lain? Silahkan share….

Nama bagi sebagian orang lain adalah doa dan harapan. Semoga dengan arti makna celesta yang saya sampaikan, semakin membuat kita semakin feeling at home dan suasana di Celesta penuh dengan kedamaian bak di surga. Amin

Salam

Hari Menjelang Libur Lebaran

September 26, 2008

Hari ini adalah hari terakhir saya masuk kerja. Seminggu ke depan, saya libur lebaran. Lumayan lama liburan ini. Tapi saya sudah merancang banyak hal yang ingin saya lakukan baik yang akan dilakukan sendiri maunpun dengan keluarga tercinta.

 

Lebaran ini saya merencanakan untuk mudik. Kalo tidak ada perubahan, tanggal 31 malam saya berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta, tepatnya ke Gunungkidul. Tidak sepenuhnya sekedar merayakan lebaran di kampung sich, cuma memang saat ini nenek saya sedang sakit dan tentu kebahagiaan terbesar orang tua adalah ditunggu’in oleh anak cucu.

 

Rencananya tidak lama di kampung, jadi masih ada waktu luang yang bisa saya gunakan untuk bersilahturahmi dengan tetangga dan juga saudara-saudara yang kebetulan tidak mudik tahun ini.

 

Kemungkinan besar, blog ini pun tidak bisa terisi. Karena biasanya menggunakan akses internet dari tempat kerja, untuk pergi ke warnet, rasanya jarang mendapatkan warnet yang buka di saat suasana lebaran. Kecuali laptop bisa bebas dari virus yang menggila, jadi bisa menggunakan modem IM2 (belum digunakan sama sekali sejak dibeli 1 bulan yang lalu).

 

Ok, pasti Anda pun sudah merencanakan banyak hal untuk menyambut liburan dan hari raya Idul Fitri ini. Bagi yang mudik, hati-hati di jalan. Bagi yang masih tinggal di Jakarta, selamat menikmati lengangnya jalanan kota metropiltan tercinta ini. (Berbahagialah…Jarang lho suasana seperti itu….)

 

Akhirnya, saya mengucapkan selamat Idul Fitri  1429 H, maaf lahir batin…..

Sedekah untuk Gepeng

September 25, 2008

Berbuat baik untuk orang lain itu harus. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu. Salah stunya memberi sedekah bagi oarng yang tidak mampu, seperti fakir miskin, anak-anak terlantar, atau dikenal dengan gepeng. Namun bagaimana dengan wacana berikut?

Di Jakarta, tampaknya para pengemis, gelandangan,  tidak akan pernah hilang. Dari hari ke hari, mereka masih saja tampak berkeliaran di jalanan. Berbagai cara untuk mengusir keberadaan mereka seolah tidak mampu mengusir mereka. Bahkan Perda DKI yang menegaskan akan memberi sanksi kepada siapapun yang memberi “recehan” kepada mereka. Karena ditengarai kebertahanan mereka terkait dengan adanya supply chain oleh pengguna jalanan.

Tampaknya, permasalahan ini ditanggapi beragam oleh masyarakat. Bagaimana menurut Anda? Apakah memberi sedekah kepada fakir miskin di jalanan adalah hal yang masih patut dilakukan atau tidak? Apakah masalah ini hanya sampai pada tataran hati nurani masing-masing?

Menyoal Cinta Sejati

September 17, 2008

“Kenapa ya aku kok ngerasa tidak bisa menemukan cinta sejatiku“, kata seorang teman suatu ketika. “Lho memangnya kenapa?” tanyaku balik. Seraya menghela nafas, dia menyahut.”Aku gampang sekali jatuh cinta. Setiap kali ketemu cewek cantik dan sexy, aku jatuh cinta. Aku capek gonta-ganti pacar. Aku gampang bosan. Takutnya sampai suatu saat aku harus menikah, aku tidak menemukan cinta sejatiku”. Aku hanya nyengir saja, sambil ngebathin,”Senengnya bisa gonta-ganti pacar”.

Itu terjadi lebih dari 10 tahunan yang lalu, ketika kami masih sama-sama belia. Kurang tahu apakah dia sudah “menemukan” cinta sejatinya atau belum, karena  terputus komunikasi di antara kami.

Kalo saja percakapan itu terjadi sekarang, saya merasa mempunyai sesuatu sebagai jawaban atas keluh-kesahnya, ya paling tidak daripada sekedar nyengir ga jelas. 

Menurut saya, cinta tidak ditemukan, namun dikembangkan, dipupuk kemudian disemai bersama-sama (pasanganya masing-masing). Ini membutuhkan proses. Bukan sekedar momentum atau suatu accident- kecelakaan, (ter-)jatuh (pada) cinta. Bahwasanya jatuh cinta mungkin bisa jadi awal proses tersebut. Namun yang lebih hakiki adalah kegigihan dalam mempertahankan rasa tersebut.

Jatuh cinta itu suatu yang gampang, bagi sebagian besar orang. Melihat hal yang menarik, tertarik, kemudian terjatuh-hatilah dia pada yang menarik itu. Sesederhana seperti seorang wanita tertarik melihat sepatu bagus di rak pajang sebuah mall, atau seorang pria melihat sebuah mobil mewah melintas di hadapannya.

Namun, cinta (sejati) dalah hasil perjuangan panjang, jalan yang berliku. Rasa luhur ini lahir dari proses mencintai pasangan, proses mengatasi kebosanan terhadapnya, dan kerelaan hati untuk mengatasi “jatuh cinta – jatuh cinta” yang sangat manusiawi ia alami. Ia tidak spontan, perlu bukti – bukan sekedar janji-janji manis selayaknya pasangan muda mudi berpacaran. Kehebatan proses ini tidak ditandai dengan gempita perasaan, dan bertaburan kata rayu, namun proses menerima apa adanya dan bersedia beradaptasi dengan pasangannya – kerelaan hati untuk membunuh ego-ego pribadi.

Jadi, satu pertanyaan saja,”Sudahkah Anda mencintai pasangan Anda?”.

Coba simak penggalan lagu “This is Home” (by Swithcfoot)- original soundtrack dari The Chronicles of Narnia: Prince of Caspian - di bawah ini:

……..

This is home
Now I’m finally
Where I belong
Where I belong
Yeah, this is home
I’ve been searching
For a place of my own
Now I’ve found it
Maybe this is hoooome
Yeah, this is hooome
……..

Itu tadi refren -nya saja. Menyimak lagu itu, terasa haru bagi saya pribadi dan tentu keluargaku juga. Sebulan ini tepatnya sejak 1 Agustus kemaren, akhirnya kami bisa menempati rumah baru. Setelah sebelumnya bingung dan gamang, seperti yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya.

Rumah kami terletak di bilangan Pondok Jagung – Tangerang, tepatnya di Graha Raya Bintaro, Cluster Celesta Blok J02.

Rasa penat dan letih bekerja terasa tak seberapa ketika I’m heading home…Yeah finally I could make it!Thanks God…

Whuih….Rasanya udah lama banget tidak menulis sesuatu di blog ini. Menilik tanggal terakhir postingan adalah 15 Mei 2008. Kalo mo beralasan dan setiap alasan diberi penjelasan, pasti saya punya banyak bahan tulisan yang bisa posting.

Tapi rasaya malu kalo mencoba berargumen dengan berbagai alasan, wong telisik punya telisk sebetulnya males aja. Untuknya blog ini tidak banyak pengunjungnya. Tidak seperti Munggur atau Ndoro Kakung. Kalo banyak penggemarnya pasti pada protes berat.

Semoga dengan jadwal kerja yang lebih bersahabat, saya jadi lebih rajin nge-blog! (Lho, itu tadi beralasan ga ya???)…

Beberapa tahun yang lalu atau bahkan setahun lalu, memilki impian untuk mempunyai rumah idaman menjadi sesuatu yang muskil (kasihan ya…bermimpi aja kok dilarang). Ya, rasanya menjadi frustrating ketika semua pilihan (yang terjangkau harganya) terterabas banjir. Bodoh aja tampaknya, demi memiliki rumah tapi mengorbankan ketenangan batin, karena was-was tiap hujan tiba.

Tinggal di kawasan Ciledug (yang sangat jauh dari tempat kerja saya – Jakarta Timur) membuat pilihan sangat sedikit yang terbebas dari banjir. Kalau toh ada, harganya sungguh tidak bersahabat dengan keuangan kami. Pindah ke daerah lain, katakan Bekasi, bukanlah pilihan kami, karena istri kerja di daerah Kebayoran Lama. Jadi mending saya yang ngalah berangkat pagi (sekali) – malah lancar, wong ngga macet. Beruntung kerjaan saya di sana hanya 3 hari saja. Selebihnya di daerah selatan serta seuptaran Jakarta pusat dan yang paling penting tidak terlalu terikat waktu….Maklum part timer….

Tapi tuntutan kebutuhan dan seiring harga properti yang semakin menggila, plus pertanyaan-pertanyaan dari kolega (e.g. “Sudah jadi ambil rumah dimana?”, “Rumah jauh ga dari mertua?”, etc.), kami memutuskan untuk mengincar satu rumah di Graha Raya (Cluster Celesta), Tangerang. Rumah kecil tipe 41 dan luas tanah 95 m. Rumah kami tipe paling kecil di cluster tersebut, hanya memang kami sedikit beruntung dapat tanah hook (yang tidak terlalu besar, jadi ga terlalu mahal). Aslinya luas tanah hanya 72m.

Kemaren, kami sudah ajukan semua berkas-berkas permohonan KPR. Jadi kemungkinan minggu ini akan di follow up dari pihak bank. Mohon doa semuanya semoga lancar…dikabulkan KPR nya…Dan semoga kenekatan ini tidak hanya memberi hak kepada kami untuk sekedar bermimpi….

Just a Hopeless One

September 28, 2007

Swim freely my Little Swan

The flow is leading you to end

Be sure never bacward your way

I’m watching you faraway.

I’m hoping not see droppin’

‘Cause this hand can’t give you a reach

Sorry for letting you goin’

Go firmly with him

and forgetting, plese, my kiss.

Just pray’n do hoping everything would remain the same

Sure here, i’m whipping for nothing.

                                                                              Billy & Moon, 6 June.2006 

Biarkan Saja Malam…

September 28, 2007

           Biarkan saja malam ini ada

Jangan kau ragukan temaramnya bintang

Jangan pula kau sangsikan buram rembulan

Karna sinarnya kan terus ada…

Sinarnya kan tetap setia pada malam

            Tak usahlah kau risaukan kabut dan dingin embun malam

Rasa ini pun kan selalu tertuju buatmu

Rentang waktu ini tiada kan pernah kan cukup

untuk mengungkapkan segala gejolak perasaan yang aku rasa

           Kupersembahkan segala rasa sayang dan cintaku

Kapanpun…melewati siang malamnya hati!

                                                               Kebalen, 30 November 2004

Finally, I started it.

September 25, 2007

Hello……..

Finally….It sounds a release after a long waiting or a hard struggle in achieving a “thing”. Personally, it’s has a deeper meaning by which I express a long process to end my being lazy to start the real process…a real one which allows me  to do more….. Yups…Among a thousand steps, the hardest one is the first one. I have been trying for passing this to proceed to further steps……and the hardest thing has been passed. Yes…finally I start composing my blog. After a long pause. This blog is not just a blog for me. By having this blog I try to create or perhaps to join with what I so call “the second world” into which I could share many things with a wider community….