Osteoporosis Nasionalisme?: Sebuah Renungan Hari Kemerdekaan
August 16, 2009
Seorang teman memberi komentar di status FB yang baru saja saya tulis. Bukan kebetulan ketika saya memasang status “Bagaimanapun kau tetap INDONESIAKU…”. Mencoba memberi sedikit sentuhan pada Hari Kemerdekaan esok. Teman saya ini memberi komentar, “Cegah osteopososis of nasionalism, Pak”. Rasanya sedikit geli ketika ia menggunakan kata osteoposis demi untuk mengungkapkan kekeroposan nasionalisme yang (menurut dia) memulai memudar.
Tapi benarkah nasionalisme telah mengalami osteoporosis atau mengeropos? Apakah ukuran sebenarnya nasionalisme dinilai sebagai tinggi, sedang-sedang saja, rendah atau bahkan tidak ada sama sekali?
Sangat mungkin jika nasionalisme setiap orang berbeda-beda. Wajar. Menurut saya, nasionanlisme tidak berbeda dengan ungkapan afektif seseorang terhadap sesuatu, dalam hal ini adalah sebuah negara. Ketika sebuah perasaan dipertanyakan ukurannya, maka hanyalah jawaban kualitatif yang akan muncul atau jika kuantitatif yang hadir, maka jawabannya akan sangat diragukan keakuratannya. Senada dengan sebuah pertanyaan seorang gadis terhadap pacar barunya, “Sebesar apakah cintamu padaku?”. Maka si pria ini akan dengan gagah menjawab, “Sebesar Gunung Merbabu, seluas 7 lautan…. (busyeet… he..he…lebay abiss…omong2 berapa cewek yang udah kena tipu Bang???)
Namun ada yang juga yang berpendapat bahwa nasionalisme bisa diukur dari seberapa lantang dia menyanyikan Lagu Kebangsaan ketika mengikuti sebuah upaca bendera atau seberapa nyaring ia berteriak manakala ia menjadi sporter pertandingan olahraga antar negara. Kemudian ketika saya bertanya lebih lanjut apakah ketika seseorang tidak pernah mengikuti upacara bendera atau menjadi sporter pertandingan nasionalismenya dipertanyakan? Dia diam cukup lama, yang kemudian saya simpulkan ia pun terjebak dalam kebingungan…..
Mengukur sesuatu yang sangat relatif dan uncountable (kalau boleh meminjam istilah ini), menurut saya tidaklah perlu dilakukan dengan cara-cara ekstrem nan heroik seperti yang dicontohkan di atas. Mungkin pendapat teman saya mempunyai andil dalam hal ini, namun juga kita tidak bisa mengabaikan orang yang dengan setia menunggu lampu(lalu lintas) merah berubah jadi hijau untuk menjalankan kendaraannya, atau seseorang yang dengan tulus mengulurkan sejumlah receh untuk anak yatim piatu atau anak terlantar Atau seseorang yang dengan sukarela membuang sampah di tempat sampah dan hal-hal (kecil) lainnya.
Pada kesimpulan saya, nasionalisme mempunyai aspek yang beragam untuk diukur. Berbagai sikap mental dan tingkah laku bisa mencerminkan nasionalisme dalam arti yang sebenarnya. Dalam kesimpulannya, nasionalisme adalah segala sikap terpuji, sekecil apaun itu, yang ditunjukkan orang demi kebaikan diri sendiri dan kehidupan bersama.Karena hal-hal kecil yang dilakukan bersama dan terus menerus akan membentuk sebuah citra positif masyarakat beradab. Mari wujudkan nasionalisme sederhana di kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan jadi NYATA ketika semua perilaku baik terlaksana.Dan pada akhirnya hal itu akan mampu membawa kemajuan yang berarti bagi negara INDONESIA tercinta ini.
DIRGAHAYU YANG KE -64 INDONESIAKU TERCINTA…..
November Rain – Kebanjiran
November 16, 2007
Anda penggermar Guns N’ Roses? Saya suka lagu-lagu Guns N’ Roses walau tidak semua hafal lirik lagu-lagunya. Salah satu yang lagu yang cukup berkesan adalah November Rain. Bukan kebetulan memang saya bernostalgia pas di bulan November ini.
Kesan nelangsa masih sama ketika kemarin saya tidak sengaja kembali ngedengerin lagu ini . Belasan tahun yang lalu ketika saya masih duduk di SMA, ngerasa nelangsa karena waktu itu naksir temen tapi ditolak, he..he..(jadi curhat)….Kalo kemaren rasanya lebih pada nelangsa karena November ini di Jakarta udah mulai kebanjiran.
Usai banjir Februari kemarin, kita masih bisa bilang kalo banjir dateng paling 5 – 6 tahun lagi. Tapi ini awal bulan udah mulai ketar-ketir lagi…Begitu hujan turun, air tidak mampu ditampung got-got yang penuh sampah, dan tanah-tanah tak mampu menyerap akibat aspal atau beton. Jalanan Jakarta bak batang air (bahasa – sungai) mengalirkan air ke penampungan.
Kekawatiran bertambah ketika ekspos media massa tentang masih buruknya kebiasaan orang buang sampah di kali, bangunan-bangunan bermunculan tanpa memperhitungkan ruang hijau lagi, proyek-proyek penangkal banjir mandeg kekurangan dana, dan seabreg lainnya.
Rupanya kepedihan akibat November Rain bakal berkepanjangan…..Jauh lebih nelangsa ketimbang ditolak cinta seorang gadis….Jadi siap-siap aja…
Mungkin Ga Ya??
October 11, 2007
Pasti Anda pernah punya keinginan atau sekarang mungkin sedang berkeinginan akan sesuatu….Keinginan tersebut biasanya akan membawa harapan akan tercapainya keinginanan tersebut. Harapan kemudian menimbulkan semangat untuk mewujudkannya….
Namun sering kali semangat tersebut kadang terganggu dengan keraguan akan mungkin tidaknya kita bisa mencapai keinginan tersebut….Wajar memang. Tapi perlu ga sich kita terganggu dengan perasan seperti itu? Beberapa tahun yang lalu saya mengikuti seminar motivasi yang dipandu oleh salah satu motivator terkenal di Indoonesia. Beliau, saat itu, menyatakan bahwa tidak perlu takut untuk bermimpi, bercita-cita….Jangan batasi cita-cita Anda!!
Pada waktu itu, saya bertanya seberapa kita bisa tahu bahwa cita-cita kita mungkin atau tidak mungkin??Jangan-jangan kita hanya menghabiskan waktu, dana, dan tenaga untuk mencapai keinginan tersebut?Beliau menjawab bahwa mungkin dan tidak mungkin adalah karena kita belum melihat hasilnya.Kita takut akan dicemooh orang karena “kegilaan” kita….Lebih lanjut beliau bertanya”, Mas, beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin ga orang terbang ke bulan?”.Lanjut beliau,”Anda sekarang bisa bilang , mungkin – tapi orang pada waktu itu bilang – mana mungkin to yo?”.
Nah, tanya diri kita masing-masing…mungkin ga ya???
