Plontos: A Brand New Ads Space
September 19, 2008
Kenyataan bahwa kreatifitas merupakan ujung tombak bagi orang-orang periklanan semakin terbukti dengan adanya sebuah berita dari Selandia Baru yang dilansir oleh Koran Tempo ePaper.
Diberitakan bahwa sebuah maskapai penerbangan di Selandia Baru mencari calon-calon penumpang yang bersedia untuk menjadikan kepala plontosnya sebuah space iklan. Tentu kalo Anda bersedia menjadi salah satunya, ada imbalan yang tidak sedikit jumlahnya, 1000 dollar Selandia Baru, kalo dikurskan dalam rupiah menjadi sekitar 7 juta rupiah. Oia, iklan itu harus mejeng di kepala Anda selama 2 minggu. Tidak begitu jelas, syarat apa yang harus dipenuhi untuk menjadi media iklan ini, termasuk apakah kepala peyang atau perlu bebas pitak untuk dapat lolos seleksi ini….
Kalo Anda pernah bermimpi jadi bintang iklan, namun pada akhirnya harus mengubur mimpi itu karena tidak kesampaian, mungkin berita ini akan sedikit memberi secercah harapan baru bagi Anda. Dan pastinya, paling tidak selama 2 minggu, “harga kepala” Anda lebih mahal Rp. 7 juta dari orang-orang kebanyakan.
Anda berminat?
Para Penjaja Jasa Joki Three-in One
September 19, 2008
Aneh mungkin kalo three-in-one saya alihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Memang selain kata tersebut tidak lazim diterjemahkan atau tidak terlalu penting untuk diterjemahkan, tampaknya keberadaan mereka pun tidak dipandang sebagai disturbance bagi Pemda DKI. Walaupun sangat mengganggu bagi pengguna jalanan secara umum. Hal ini tampak dari semakin banyaknya penyedia jasa ini, padahal jelas-jelas ini bisnis illegal dan penuh aksi tipu-tipu. Dan tentu saja semakin jarangnya operasi penertiban oleh Satpol PP.
Saya tertarik menulis postingan ini karena hampir setiap hari, di sepanjang jalur pergi-pulang dari dan ke tempat kerja – sepanjang Jl. Pakubuwono dan Jl. Dr. Satrio (Kuningan) – selalu menemui para penyaji jasa ini. Yang menarik perhatian saya adalah usaha keras mereka untuk mendapatkan tebengan yang tentu berarti rupiah buat mereka.
Banyak cara yang mereka lakukan demi tampil ”profesional” untuk menarik perhatian si empunya mobil agar mau menghentikan mobil dan membuka pintu untuk mereka. Tampil maksimal buat mereka penting untuk alasan tersebut, yang sebelumnya juga sebagai alat mengelabui petugas Satpol agar mereka tampak seperti orang kantoran sungguhan.
Namun apa daya, tampil bak orang kantoran perlu modal yang yang tidak sedikit. Tidak cukup sekedar kemeja lengan panjang yang dimasukkan di celana kain untuk para joki pria, atau tampil dengan dandanan tebal di wajah bagi para perempuan. Tentu mereka tidak pernah ikut beauty class atau training tentang kepribadian dan penampilan. Sehingga wajarlah akhirnya saya pun harus memaklumi terhadap usaha keras mereka, lepas dari masalah legalitas mereka
Ada juga yang lebih memilih menebar efek belas kasihan, terutama ibu-ibu, dengan menggendong anak kecil – entah anak siapa itu. Rasa iba dijadikan added value buat mereka dalam persaingan dengan semakin sengitnya persaingan di dunia perjokian.
Hidup di Jakarta ini memang harus pantang menyerah….
Contreng atau Centang?
September 19, 2008
Apakah Anda tahu perbedaan 2 kata yang saya jadikan judul postingan ini? Kalo Anda merasa ragu, Anda bisa membuka situs pusatbahasa.diknas.go.id
Kedua kata tersebut sedang hangat dibicarakan oleh para anggota Dewan dan juga Komisi Pemilihan Umum. Pemilu 2009 nantinya akan ada perubahan yang cukup signifikan. Perubahan tersebut terkait dengan masih alotnya pembahasan seputar tata cara dalam menentukan pilihannya, apakah akan diberi tanda contreng, dicentang atau masih dicoblos….
Kalo selama ini, para pemilih diminta untuk mencoblos pilihannya, sekarang ada wacana baru untuk ”sekedar” memberi tanda, yaitu dengan mencontreng atau mencentang tanda gambar yang mewakili pilihannya.
Bagi saya orang awam, apapun tata cara pemilihannya yang penting adalah komitmen dari yang terpilih untuk merealisasikan apapun janji yang keluar lewat corong-corong kampanyenya…….
